Home   Blog  
Pengembangan Diri

  Tuesday, 17 February 2026 12:00 WIB

Puisi Rakyat: Pengertian, Jenis (Pantun, Gurindam, Syair), dan Ciri

Author   Raden Putri
Puisi Rakyat: Pengertian, Jenis (Pantun, Gurindam, Syair), dan Ciri

Di tengah gempuran sastra modern, puisi rakyat hingga kini tetap bertahan sebagai warisan lisan yang sarat makna dan nilai kehidupan. Karya-karya klasiknya tidak hanya indah didengar, tapi juga menyimpan pesan moral, petuah, hingga filosofi hidup yang relevan lintas zaman.

Promo Hemat Belajar Diskon 20 Persen

Artikel di bawah ini akan mengulas lebih lanjut mengenai puisi tentang rakyat dan apa saja jenis serta ciri-cirinya. Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.

Apa yang Dimaksud dengan Puisi Rakyat?

Puisi rakyat merupakan karya sastra lama yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tradisional secara lisan. Bentuknya cenderung lebih kaku karena terikat oleh aturan tertentu, baik dari segi rima, jumlah baris, maupun pola penyampaian, serta umumnya memuat nasihat dan ajaran hidup.

Cerita puisi rakyat kerap disebut sebagai bagian dari puisi lama karena diwariskan secara turun-temurun. Jenis karya sastra ini telah dikenal sejak masa Melayu Klasik di Nusantara dan menjadi bagian dari khazanah budaya bangsa.

Bentuknya juga beragam, mulai dari pantun, syair, hingga gurindam, dengan masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Di dalamnya terkandung nilai moral, ajaran agama, serta tuntutan budi pekerti yang diwariskan para leluhur.

Paket Belajar dengan Kurikulum yang Dirancang Khusus cuma Setengah Harga
puisi rakyat

Mengenal Jenis-Jenis Puisi Rakyat

Karya sastra tradisional ini memiliki beberapa bentuk utama dan tambahan yang berkembang di berbagai wilayah. Adapun jenis-jenis puisi rakyat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pantun

Pantun adalah jenis puisi rakyat utama yang setiap baitnya terdiri atas empat baris dengan pola rima a-b-a-b, sehingga menciptakan irama yang teratur dan mudah diingat. Dua baris pertamanya berfungsi sebagai sampiran, sedangkan dua baris terakhir menjadi isi yang memuat pesan utama. 

Pantun berasal dari budaya Melayu dan dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Nilai yang disampaikan dalam jenis sastra ini biasanya berkaitan dengan etika, nasihat, hingga ungkapan perasaan.

2. Gurindam

Gurindam diperkenalkan ke Nusantara melalui pengaruh budaya India, khususnya dari tradisi Hindu. Isinya banyak memuat petuah moral, ajaran hidup, serta nilai filosofis yang padat dan langsung pada inti pesan.

Setiap baitnya terdiri atas dua baris dengan rima puisi senada di akhir. Baris pertama berisi sebab atau syarat, sementara baris kedua menjadi jawaban atau akibatnya.

3. Syair

Sementara itu, puisi rakyat syair memiliki akar dari tradisi Persia dan berkembang pesat dalam sastra Melayu klasik. Setiap bait terdiri atas empat baris dengan pola rima a-a-a-a sehingga terdengar padu dan berkesinambungan.

Seluruh baris dalam satu bait syair merupakan isi tanpa adanya sampiran. Ceritanya biasanya panjang dan berlanjut ke bait berikutnya, sehingga sering digunakan untuk menyampaikan kisah sejarah, percintaan, atau ajaran agama secara runtut.

4. Mantra

Jenis puisi rakyat tambahan ini merupakan bentuk lisan yang dipercaya memiliki kekuatan magis atau gaib. Untaian katanya sering dikaitkan dengan ritual adat, pengobatan tradisional, maupun upacara tertentu.

Bahasanya cenderung simbolik dan sakral. Pengucapannya pun mengikuti tata cara khusus agar makna dan kekuatannya tetap terjaga sesuai kepercayaan masyarakat setempat.

5. Talibun

Bentuk sastra ini memiliki kemiripan dengan pantun karena sama-sama memuat sampiran dan isi. Perbedaannya terletak pada jumlah baris yang lebih panjang, serta biasanya genap antara enam hingga sepuluh baris.

Pola tulisan talibun dapat berupa abc-abc, abcd-abcd, dan seterusnya. Isinya juga umumnya menjelaskan suatu peristiwa atau keadaan secara lebih rinci dibanding pantun biasa, sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih luas dan mendalam.

6. Karmina

Karmina sering disebut sebagai pantun kilat karena hanya terdiri atas dua baris. Baris pertama berfungsi sebagai sampiran, sedangkan baris kedua langsung menyampaikan isi.

Bentuk tulisannya cenderung singkat, padat, dan biasanya bernada sindiran atau humor. Karena itu, jenis ini kerap dipakai untuk menyampaikan pesan secara cepat namun tetap berkesan.

7. Seloka

Sedangkan, seloka termasuk bentuk tulisan berkait yang tersusun dari beberapa bait saling terhubung. Isinya sering berupa pepatah atau perumpamaan yang disampaikan secara berantai.

Membuat puisi rakyat ini cenderung menggunakan gaya bahasa yang ringan dan kadang mengandung senda gurau atau sindiran tajam. Melalui susunan yang sambung-menyambung, seloka mampu menghadirkan pesan moral sekaligus hiburan

Ciri Khas Pantun, Gurindam, dan Syair

Setiap jenis puisi rakyat memiliki karakter dan struktur tersendiri, yang membedakannya dengan bentuk lain. Berikut adalah beberapa ciri khas dari pantun, gurindam, dan syair:

Ciri-Ciri Pantun

  • Setiap bait terdiri dari 4 baris.
  • Tiap baris memuat 8–12 suku kata.
  • Dua baris awal sebagai sampiran, dua baris akhir sebagai isi.
  • Pola rima a-b-a-b.

Contoh puisi rakyat pantun:

Pergi ke pasar membeli ketan,
Tidak lupa membeli selasih.
Jika ingin hidup nyaman,
Jagalah tutur dan hati yang bersih.

Ciri-Ciri Gurindam

  • Terdiri dari 2 baris dalam satu bait.
  • Tiap baris 10–14 suku kata.
  • Baris pertama berisi sebab atau syarat.
  • Baris kedua berisi akibat atau jawaban.
  • Bermuatan nasihat atau ajaran hidup.
  • Rima akhir a-a.

Contoh:

Jika engkau ingin dihormati,
Hormatilah orang lain sepenuh hati.

Ciri-Ciri Syair

  • Setiap bait terdiri dari 4 baris.
  • Tiap baris 8–14 suku kata.
  • Semua baris merupakan isi.
  • Pola rima a-a-a-a.
  • Banyak memakai bahasa kiasan.

Contoh:

Mentari pagi bersinar terang,
Burung bernyanyi riang gemilang,
Hati yang gundah perlahan hilang,
Harapan tumbuh semakin cemerlang.


Bagikan