Pernahkah kamu memperhatikan irama dan pengulangan bunyi dalam puisi? Rima puisi adalah unsur bunyi yang membuat suatu karya menjadi terasa lebih hidup, berirama, dan melekat di ingatan pembaca.
Tanpa persajakan, bait-bait itu akan terdengar datar meski memiliki makna mendalam. Karena itu, memahami unsur ini adalah langkah penting untuk menikmati dan menciptakan sajak memikat. Lebih lanjut, simak pengertian rima dalam puisi berikut ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rima puisi adalah pengulangan bunyi secara berselang, baik di dalam larik maupun akhir baris sajak yang saling berdekatan. Singkatnya, persajakan dipahami sebagai pengulangan bunyi pada kata atau suku dalam sebuah karya puisi.
Pada umumnya, pola bunyi ini muncul di bagian akhir baris sehingga membentuk kesan ritmis saat dibaca. Kehadirannya membuat sajak terasa lebih indah sekaligus menghadirkan efek intelektual dan nuansa magis bagi penikmatnya.
Corak persajakan yang kuat dapat ditemukan dalam karya sastra lama, khususnya tradisi Melayu, karena memanfaatkan bunyi serupa secara konsisten. Dalam hal ini, rima menjadi ciri khas estetika yang mudah dikenali.
Dalam sastra lama, rima puisi berfungsi sebagai pola tetap, seperti rima sejajar (a/a/a/a), rima silang (a/b/a/b), rima kembar (a//a/b/b), dan rima berpeluk (a/b/b/a). Pola-pola ini digunakan untuk membantu membangun keteraturan bunyi sekaligus memperkuat struktur bait.
Persajakan tidak hanya berperan sebagai hiasan bunyi, tapi juga mendukung penyampaian pesan dan emosi penulis. Adapun beberapa fungsi rima dalam puisi adalah sebagai berikut:
Sajak akan terasa lebih enak didengar karena pengulangan bunyi membentuk alur ritmis. Irama ini membantu pembaca mengikuti alur bait dengan lebih nyaman.
Bunyi yang diulang dapat menegaskan gagasan penting dalam bait. Penekanan ini membuat pesan terasa lebih dalam dan terarah.
Pola persajakan memudahkan pembaca mengingat baris-baris tertentu. Hal ini menjadikan karya lebih dekat dan melekat di ingatan.
Susunan bunyi yang selaras juga akan menambah nilai artistik pada sajak. Keindahan ini membuat pembaca tertarik untuk membaca ulang.
Puisi berrima akan lebih mampu membangun suasana, mulai dari lembut, sendu, hingga tegas. Nuansa emosional tersebut dapat muncul dari keselarasan bunyi yang digunakan.

Berdasarkan kesamaan bunyinya, persajakan dalam puisi memiliki beberapa bentuk utama yang dapat menghadirkan efek dan nuansa berbeda. Berikut adalah macam-macam rima dalam karya lirik.
Rima sempurna ini terjadi ketika bunyi akhir suku kata sama persis, sehingga menghasilkan kesan teratur dan simetris. Pola ini sering digunakan untuk menampilkan nuansa klasik dan menonjolkan keteraturan bahasa.
Contoh:
Bintang berpijar penuh abdi di angkasa,
Malam meminta sunyi kian bermakna,
Cinta semurni kristal tak kenal lelah sirna.
Jenis ini muncul saat bunyi akhir hanya terdengar mirip, tetapi bentuknya tidak identik. Pola tak sempurna ini memberi kesan lebih bebas dan alami tanpa menghilangkan ritme.
Contoh:
Kehidupan ini sebetulnya penuh biru
Kadang indah, kadang terasa memilu
Namun semua menjadi abu
Seiring rasa sakit jaharu melayu.
Pengulangan ini terjadi saat seluruh kata berima terletak pada kata yang sama. Contoh rima dalam puisi ini adalah sebagai berikut:
Mendatang-datang jua
Kenangan lama kampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau-silau
Ditandai oleh kesamaan bunyi vokal pada akhir kata. Jenis ini membantu menciptakan kesan ringan dan mengalir.
Contoh: buka–luka, padu–madu, peti–budi.
Merupakan kebalikan dari rima terbuka, jenis ini diakhiri oleh bunyi konsonan. Efeknya memberikan kesan lebih tegas dan kuat.
Contoh: tutup–hidup, putih–bersih, hilang–malang.
Aliterasi terjadi ketika bunyi awal kata diulang dalam satu baris atau antarbaris. Pola ini menimbulkan kesan musikal sejak awal pelafalan.
Contoh: Bukan beta bijak berperi.
Jenis rima dalam puisi ini memanfaatkan pengulangan bunyi vokal sebagai rangka kata. Efeknya bait akan terasa lebih lembut dan harmonis.
Contoh: secupak–sesukat, tumbang–mundam.
Disonansi muncul saat vokal yang diulang justru memberi kesan bunyi berlawanan. Jenis ini sering menciptakan nuansa tegang atau kontras.
Contoh: tindak-tanduk (i–a / a–u), mundar-mandir (u–a / a–i).
Selain bunyi, persajakan juga dapat dibedakan berdasarkan posisinya dalam sebuah baris. Penempatan ini akan memengaruhi ritme dan penekanan makna suatu kata.
Rima awal muncul dari pengulangan bunyi di bagian awal baris. Pola ini biasanya langsung menarik perhatian pembaca dan menegaskan tema utama puisi.
Contoh:
Langit biru menghampar luas,
Langit biru menyapa dengan tulus,
Langit biru, saksi harapan kupanjatkan pada Kuasa.
Cara menentukan rima dalam puisi ini adalah dengan melihat kata pada penghujung baris dan paling sering digunakan. Pola ini membangun keselarasan bunyi sekaligus menegaskan suasana tertentu.
Contoh:
Hujan agung di malam abadi,
Membawa dekap tak lagi berbuai,
Dalam gelap, aku penuh adiksi,
Menanti hati sudi beradiasi.
Selain itu, pengulangan juga bisa terjadi di bagian tengah baris untuk memberi efek halus. Variasi ini membantu menghindari kesan monoton dalam susunan bait.
Contoh:
Hatiku gelisah di malam kelam,
Mencari cahaya dalam suram,
Dingin menyelimuti tubuhku,
Namun harapan tetap di hatiku.
Karya sastra lama umumnya menggunakan pola persajakan tetap seperti A-A-A-A atau A-B-A-B untuk menjaga keteraturan bunyi dan struktur. Pola tersebut membuat sajak terdengar musikal serta mudah dihafal karena konsistensinya.
Sebaliknya, karya modern cenderung lebih fleksibel dalam menerapkan pola bunyi. Meskipun masih memanfaatkan rima sejajar atau silang, penulis masa kini sering memadukannya dengan kebebasan ekspresi agar makna dan emosi terasa lebih personal.