Home   Blog  
Pengembangan Diri

  Friday, 06 February 2026 14:00 WIB

Sastra Indonesia: Pengertian, Sejarah, dan Perkembangannya

Author   Raden Putri
Sastra Indonesia: Pengertian, Sejarah, dan Perkembangannya

Dari masa ke masa, sastra Indonesia tumbuh sebagai salah satu ruang berekspresi yang merekam banyak hal, mulai dari pergulatan batin, sosial, hingga sejarah bangsa. Karya-karyanya pun tidak hanya menawarkan keindahan bahasa, tapi juga cara pandang kritis terhadap realitas di sekitarnya.

Banner Promo Payday Januari Blog Tempo Institute

Melalui perjalanan panjang, kesusastraan di Tanah Air menjadi cermin perubahan zaman sekaligus identitas budaya yang ikut terus bergerak. Artikel berikut ini akan membahas lebih dalam mengenai apa itu sastra dan bagaimana perkembangannya di Indonesia. Yuk, simak!

Pengertian Sastra Indonesia Menurut Para Ahli

Secara umum, sastra adalah hasil ekspresi manusia yang disampaikan melalui bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Isinya berupa gagasan, emosi, pengalaman, imajinasi, hingga sudut pandang terhadap suatu realita.

Fungsi sastra ialah untuk merepresentasikan dinamika kehidupan manusia. Pandangan ini dapat berbeda-beda sesuai ahli yang membahasnya. Berikut pengertian sastra Indonesia menurut para ahli:

1. Sapardi Djoko Damono (1979)

Sapardi memandang sastra sebagai sebuah lembaga sosial yang menjadikan bahasa sebagai medium utama penyampaian. Melalui karya-karyanya, kehidupan manusia ditampilkan sebagai kenyataan sosial yang tidak terpisah dari konteks masyarakatnya.

Paket Belajar dengan Kurikulum yang Dirancang Khusus cuma Setengah Harga

2. Panuti Sudjiman

Menurut Panuti, sastra adalah karya lisan maupun tulis yang memiliki keunggulan tertentu. Keunggulan tersebut tampak pada keorisinalan, nilai artistik, serta keindahan isi dan cara pengungkapannya.

3. Ahmad Badrun

Ahmad Badrun menyebutkan sastra merupakan kegiatan seni yang memanfaatkan bahasa dan sistem simbol sebagai alat ekspresi. Karya yang dihasilkan bersifat imajinatif dan menekankan daya cipta pengarang.

4. Sumardjo & Saini (1997)

Sementara itu, Sumardjo dan Saini mendefinisikan sastra sebagai ungkapan pribadi manusia yang lahir dari pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, dan keyakinan. Semua unsur tersebut diwujudkan dalam bentuk konkret yang memikat melalui penggunaan bahasa.

Sejarah Awal Mula Sastra Indonesia

Perkembangan awal kesusastraan di Tanah Air bermula dari tradisi lisan dan tulisan Melayu yang hidup di tengah masyarakat Nusantara. Seiring masuknya pengaruh kolonial, karya-karya tersebut mulai terdokumentasi dan dibuat dalam bentuk bacaan yang lebih sistematis.

Adapun sejarah periodisasi sastra Indonesia pada awal mula perkembangannya adalah sebagai berikut:

Angkatan Pujangga Lama

Periode ini berlangsung sebelum abad ke-20 dan ditandai oleh dominasi tradisi Melayu lama. Bentuk karyanya seperti pantun, syair, gurindam, dan hikayat dengan fungsi sebagai sarana hiburan, pendidikan moral, sekaligus pengikat nilai adat dan budaya.

Angkatan Balai Pustaka

Sekitar tahun 1920-an, angkatan Balai Pustaka mulai berkembang di bawah pengawasan penerbit pemerintah kolonial. Pada masa ini, karya diarahkan untuk memberikan pendidikan budi pekerti dengan tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti konflik adat, kawin paksa, dan pertentangan nilai tradisional dengan modernitas.

Sastra Indonesia

Periodisasi Sastra Indonesia

Memasuki era modern, kesusastraan Tanah Air mengalami perkembangan yang ditandai dengan perubahan gaya, tema, dan semangat zaman. Setiap periodisasi sastra ini membawa respons kreatif terhadap kondisi sosial, politik, dan budaya. Berikut penjelasannya:

1. Angkatan Pujangga Baru

Angkatan ini muncul pada periode 1933–1942 dengan semangat modernisasi dan kebangsaan. Karya-karyanya banyak mengusung tema romantisme dan idealisme, serta ditulis dalam bentuk prosa dan puisi yang lebih bebas.

2. Angkatan ’45 (Angkatan Kemerdekaan)

Periode ini lahir di tengah pergolakan dan semangat menuju kemerdekaan, sehingga ditandai oleh sikap perlawanan terhadap bentuk lama. Ungkapan bahasa pada masa ini menjadi lebih lugas dan jujur, dengan gaya realisme bertema penderitaan rakyat, perjuangan, hingga ketidakadilan sosial.

3. Angkatan ’50-an

Pada era ini, media cetak berkembang pesat dan membuka ruang bagi cerpen serta puisi sebagai sarana penyampai gagasan secara ringkas. Fokus penulisannya pun bergeser kepada persoalan individu dan konflik batin tokoh dalam menghadapi perubahan sosial.

4. Angkatan ’66

Angkatan ’66 muncul di tengah gejolak politik nasional dan perubahan ideologi. Karena itu, karya yang lahir cenderung mengeksplorasi pemikiran kritis dan pencarian makna estetika yang lebih mendalam, serta menjadikan publikasi sebagai standar mutu kesusastraan pada masanya.

5. Angkatan ’80-an

Perkembangan sastra pada tahun 80-an ditandai oleh maraknya roman populer yang menyasar pembaca luas. Cerita percintaan dengan alur ringan dan emosional pun menjadi ciri dominan, terutama melalui media penerbitan umum dan majalah.

6. Angkatan Reformasi hingga Sekarang

Pasca-Reformasi, kebebasan berekspresi menjadi semakin terbuka dan melahirkan keberagaman genre. Tema demokrasi, identitas, feminisme, hingga eksperimen bentuk menjadi warna utama, didukung oleh kehadiran media digital.

Ciri-Ciri Karya Sastra di Setiap Angkatan

Setiap angkatan memiliki karakteristik yang membedakan karyanya satu sama lain. Perbedaan ini dapat dilihat pada tema, gaya bahasa, serta tujuan pengungkapannya. Adapun beberapa ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  1. Pujangga Lama: berakar pada tradisi lisan, sarat nilai moral dan adat, serta menggunakan bentuk puisi dan prosa klasik.
  2. Balai Pustaka: mengusung tema pendidikan dan konflik adat dengan bahasa yang lebih terkontrol.
  3. Pujangga Baru: menonjolkan semangat modernisasi, romantisme, dan kesadaran kebangsaan.
  4. Angkatan ’45: berciri ungkapan lugas, individualistis, dan penuh semangat perlawanan.
  5. Angkatan ’50-an: fokus pada konflik batin dan pengalaman personal melalui cerpen dan puisi.
  6. Angkatan ’66: menampilkan pemikiran kritis dan eksplorasi estetika di tengah gejolak politik.
  7. Angkatan ’80-an: didominasi roman populer dengan alur ringan dan emosional.
  8. Era Reformasi: bercorak beragam, eksperimental, dan responsif terhadap isu kontemporer.
Tokoh Sastra Indonesia
Tokoh Sastra Indonesia: Taufiq Ismail | Sumber: Tempo.co

Tokoh Sastra Indonesia yang Berpengaruh

Perkembangan sastra Indonesia tentu tidak lepas dari peran para tokoh yang menghadirkan gagasan dan pembaruan estetik dari waktu ke waktu. Melalui karya dan pemikirannya, mereka memberi arah penting bagi perkembangan kesusastraan nasional. Beberapa tokoh paling berpengaruh adalah sebagai berikut:

1. Sultan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana merupakan tokoh sentral Angkatan Pujangga Baru sekaligus pemikir kebudayaan. Ia lahir pada 11 Februari 1908 dan dikenal sebagai sastrawan, filsuf, serta budayawan. 

Gagasannya banyak menekankan pentingnya modernisasi dan rasionalitas dalam kebudayaan Indonesia. Melalui karya dan esainya, ia mendorong kesusastraan agar sejajar dengan perkembangan dunia modern.

2. Amir Hamzah

Selain Sultan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah juga merupakan salah satu tokoh penting dari era Pujangga Baru. Karya sastrawan kelahiran Langkat, pada 28 Februari 1911 ini banyak memadukan tradisi Melayu, nilai religius, serta pengaruh Timur dan Barat secara harmonis. 

Ia dikenal sebagai tokoh penting puisi Indonesia sebelum kemerdekaan dengan gaya bahasa yang halus dan reflektif. Karya terkenalnya antara lain Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, dan Padamu Jua.

3. Chairil Anwar

Lahir di Medan pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar merupakan pelopor utama Angkatan ’45. Ia membawa pembaruan besar melalui gaya ungkap yang padat, lugas, dan penuh ekspresi individual. 

Tema eksistensi, kebebasan, dan perlawanan kerap hadir dalam puisinya. Julukan “Si Binatang Jalang”, yang terdapat dalam puisinya yang berjudul AKU, melekat sebagai simbol keberanian sikap estetiknya.

4. W.S. Rendra

Pemilik nama asli Willibrordus Surendra Broto Narendra ini lahir di Solo pada 7 November 1935 dan dikenal sebagai seniman multitalenta. Ia aktif menulis puisi, naskah drama, sekaligus mementaskannya di berbagai panggung. 

Karyanya banyak menyuarakan kritik sosial dan keberpihakan pada kaum tertindas. Melalui Bengkel Teater, ia membuka ruang eksperimen seni pertunjukan yang berpengaruh luas.

5. Taufiq Ismail

Sastrawan berpengaruh selanjutnya adalah Taufiq Ismail, penyair kelahiran 1935 yang dikenal aktif menyuarakan isu sosial-politik. Namanya mencuat pada masa demonstrasi 1966 ketika puisinya menjadi medium kritik kekuasaan. 

Karya Taufiq Ismail kebanyakan bersifat reflektif dan moralistik dengan fokus pada perjalanan sejarah bangsa. Sebagai seorang seniman, ia juga berperan besar dalam pengembangan literasi nasional.

Mini Class | Menulis Opini: Bangun Fondasi Menembus Meja Redaksi


Bagikan