Dalam kehidupan ini, sastra adalah ruang tempat bahasa bertemu dengan rasa, pikiran, dan pengalaman hidup seseorang. Melalui kata-kata, karya ini mampu merekam realita sekaligus menghadirkan imajinasi yang tak jarang melampaui zaman.
Selain indah untuk dinikmati, sastra juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai cermin sosial dan sarana memahami manusia secara lebih mendalam. Namun, sebenarnya apa itu sastra dan apa saja jenis-jenisnya? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Secara umum, pengertian sastra adalah hasil ekspresi manusia yang diwujudkan melalui bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Di dalamnya tersimpan gagasan, emosi, pengalaman, imajinasi hingga cara pandang seseorang terhadap realitas sekitarnya serta berfungsi sebagai representasi dinamika kehidupan manusia.
Secara etimologis, istilah sastra berasal dari bahasa Sanskerta, yakni “śāstra” (dibaca: shaastra). Kata tersebut tersusun dari akar śās- yang bermakna mengajar atau memberi petunjuk, serta akhiran -tra yang berarti alat atau sarana.
Dari sini, sastra dapat dipahami sebagai media pembelajaran atau wahana penyampai tuntunan hidup. Dalam pengertian modern, sastra dipandang sebagai karya seni berbasis bahasa yang digunakan untuk menyalurkan ide, perasaan, serta pesan tertentu secara estetis.
Nilai keindahan menjadi unsur penting, tanpa menghilangkan kedalaman makna yang ingin disampaikan kepada pembaca atau pendengar. Pemaknaan ini dapat berbeda-beda tergantung kacamata para ahli. Berikut adalah beberapa pengertian teori sastra menurut para ahli.
Plato berpendapat bahwa sastra merupakan bentuk tiruan realitas atau mimesis. Karya ini dianggap sebagai representasi alam semesta sekaligus gambaran kehidupan manusia sehari-hari.
Menurut Esten, kesusastraan merupakan ungkapan fakta artistik dan imajinatif yang merepresentasikan kehidupan individu maupun masyarakat. Penyampaiannya menggunakan bahasa estetik serta membawa dampak positif bagi manusia.
Sapardi memaknai sastra sebagai lembaga sosial yang menjadikan bahasa sebagai media utamanya. Melalui karya-karya tersebut, tergambar kehidupan manusia sebagai realitas sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Sementara menurut Taum, kesusastraan adalah hasil cipta imajinatif yang disusun dengan bahasa indah. Selain bernilai artistik, keberadaannya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan lain.
Ketiganya memandang kesusastraan sebagai karya fiksi hasil luapan emosi spontan. Karya ini mampu menampilkan nilai estetika, baik dari segi kebahasaan maupun kedalaman makna.
Dalam kehidupan manusia, seni sastra memiliki peran yang tidak sekadar bersifat estetis, namun juga relevan dalam berbagai aspek kehidupan. Adapun fungsi utama kesusastraan ini adalah sebagai berikut:
Karya sastra mampu menghadirkan rasa senang dan hiburan bagi pembacanya. Melalui cerita atau ungkapan bahasa yang indah, pembaca dapat sejenak melupakan tekanan dan rutinitas hidup.
Selain menghibur, karya ini juga mengandung nilai pendidikan. Pembaca dapat memetik pelajaran tentang hal baik dan buruk, sekaligus memperoleh wawasan baru dari pengalaman tokoh atau gagasan penulis.
Fungsi ini berkaitan dengan nilai keindahan yang terkandung dalam sebuah karya kesusastraan. Keindahan ini dapat muncul dari pilihan kata, gaya bahasa, serta struktur yang membangun daya tarik artistik.
Sebuah karangan kesusastraan juga turut menyampaikan nilai-nilai moral melalui cerita dan konflik di dalamnya. Nilai tersebut mencakup kasih sayang, empati, penghargaan terhadap sesama, serta penguatan keyakinan hidup.
Beberapa karya sastra juga memuat ajaran keagamaan. Hal ini menjadikannya sebagai sarana refleksi spiritual sekaligus teladan bagi pembaca dalam menjalani kehidupan

Secara umum, aliran sastra dapat dibedakan berdasarkan tingkat imajinasi dan faktualitasnya. Hal ini akan membantu pembaca memahami karakter serta tujuan dari masing-masing karya.
Jenis ini menekankan pada daya cipta dan kebebasan berkhayal dalam menggambarkan realitas kehidupan. Penulis lebih menonjolkan interpretasi, simbol, dan makna, dibanding fakta.
Melalui imajinasi ini, pembaca diajak melihat kehidupan dari sudut pandang baru. Karena itu, karya imajinatif memiliki tujuan untuk memabngun kesadaran dan sikap manusia terhadap keadaan sebenarnya secara reflektif.
Cabang dari jenis sastra ini meliputi puisi, prosa, dan drama. Puisi terbagi menjadi epik, lirik, serta dramatik, sementara prosa mencakup novel, cerpen, dan novelet. Drama hadir dalam bentuk dialog antartokoh dan ditujukan untuk dipentaskan.
Non-imajinatif berarti karya lebih menekankan fakta dibanding imajinasi. Gaya bahasanya cenderung denotatif, meskipun tetap dapat memuat unsur estetika sesuai ciri penulis.
Karya jenis ini bertujuan menyampaikan informasi, gagasan, atau refleksi berdasarkan realitas nyata. Walaupun begitu, unsur seni tetap hadir dalam penyusunannya.
Kesamaan antara imajinatif dan non-imajinatif terletak pada nilai estetikanya. Jika imajinatif mencakup puisi, prosa, dan drama, maka struktur karya sastra non-imajinatif meliputi esai, kritik, biografi, memoar, serta surat-surat.
Selain berdasarkan tingkat imajinasi dan faktualitasnya, sastra juga dapat terbagi ke dalam beberapa genre utama. Antara lain:
Merupakan karya berbentuk narasi bebas yang menceritakan kehidupan tokoh-tokohnya. Jenis ini banyak digunakan untuk menggambarkan peristiwa sehari-hari secara runtut dan detail. Prosa terdiri dari tiga jenis, yakni:
A. Novel
Karangan prosa panjang yang mengisahkan kehidupan tokoh secara kompleks. Ceritanya berkembang melalui konflik, watak, dan relasi antartokoh dalam jangka waktu panjang.
B. Roman
Menitikberatkan pada penggambaran watak serta kehidupan batin tokohnya. Karya ini sering membawa semangat zamannya dan kerap berfokus pada kisah percintaan.
C. Cerita Pendek (Cerpen)
Cerpen merupakan prosa singkat yang biasanya hanya mengangkat satu peristiwa utama. Ceritanya padat, fokus pada satu tokoh, dan sering dijumpai di media massa maupun platform digital.
Genre sastra selanjutnya adalah puisi, sebuah karya yang mengedepankan keindahan bahasa, ritme, serta rima. Umumnya, bentuk ringkas namun sarat makna dan emosi.
Setiap kata dalam penulisan puisi dipilih dengan cermat untuk membangun imajinasi. Melalui kepadatan bahasanya, puisi mampu menyampaikan perasaan dan gagasan secara mendalam.
Sementara itu, drama merupakan karya sastra yang disusun untuk dipentaskan di atas panggung. Fokus utamanya terletak pada dialog dan interaksi antartokoh dengan unsur konflik sebagai penggerak utama alur cerita. Melalui pementasan, drama menghadirkan pengalaman estetik secara langsung kepada penonton.