Majas personifikasi adalah jenis gaya bahasa yang sering digunakan untuk menghidupkan suasana dalam sebuah karya tulis. Melalui teknik ini, benda mati digambarkan seolah memiliki perasaan, tindakan, atau sifat layaknya manusia.
Dengan penggunaan majas ini, kalimat akan terasa lebih ekspresif, imajinatif, dan mudah dipahami pembaca. Artikel berikut ini akan mengulas lebih jauh mengenai pengertian majas personifikasi beserta ciri, fungsi, dan contohnya. Simak penjelasannya di bawah ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), majas personifikasi adalah penggambaran objek tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat, sikap, atau perilaku seperti manusia. Ini merupakan salah satu bagian dari majas perbandingan yang menampilkan objek tak bernyawa dengan karakter makhluk hidup, untuk membangun kesan dan menyampaikan makna tersirat.
Secara khusus, personifikasi termasuk majas yang memberikan sifat manusia pada benda mati, sehingga kalimat terasa lebih hidup dan bernuansa imajinatif. Dalam penggunaannya, penulis menggambarkan benda atau unsur alam seolah dapat melakukan aktivitas manusia, seperti berbicara, bergerak, bernapas, atau merasakan emosi.
Objek yang sering dipersonifikasikan sangat beragam, mulai dari tumbuhan, hewan, hingga benda mati seperti langit, angin, awan, hujan, kaca, dan unsur alam lainnya. Teknik ini banyak ditemukan dalam karya sastra, puisi, lagu, hingga cerpen untuk memperkuat suasana dan makna tulisan.
Untuk mengenali gaya bahasa ini, terdapat beberapa karakteristik khas yang membedakannya dari majas perbandingan lainnya. Ciri-ciri majas personifikasi adalah sebagai berikut:

Dalam karya sastra maupun tulisan kreatif, kalimat majas personifikasi memiliki peran penting untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Berikut adalah beberapa fungsinya:
Penggunaan gaya personifikasi membantu membuat rangkaian kata terasa lebih estetis dan tidak monoton. Bahkan, majas personifikasi dalam lagu sering dimanfaatkan untuk menciptakan lirik yang puitis dan mudah diingat pendengar.
Gaya bahasa ini mampu menghadirkan efek emosional kuat bagi pembaca melalui deskripsi kata yang hidup. Pembaca dapat merasakan suasana cerita sesuai dengan gambaran yang dibangun penulis.
Personifikasi juga mendorong pembaca untuk membayangkan adegan secara lebih mendalam. Imajinasi ini terbentuk karena objek digambarkan seolah aktif dan bernyawa.
Dengan bantuan pendekatan ini, perasaan tokoh atau kondisi cerita dapat tersampaikan secara tidak langsung namun tetap jelas. Hal ini sangat efektif dalam penulisan cerpen dan novel yang menekankan emosi.
Fungsi dari penggunaan gaya ini juga untuk membuat pembaca merasa lebih dekat dengan unsur alam maupun objek dalam cerita. Keterhubungan emosional itu terbentuk karena benda-benda digambarkan memiliki sisi manusiawi.
Gaya personifikasi berbeda dengan jenis majas lain karena teknik ini secara khusus memberikan sifat, tindakan, atau perilaku manusia pada benda mati atau makhluk tak bernyawa. Hal yang membedakan personifikasi dengan metafora terletak pada objek yang dibandingkan.
Metafora menyamakan dua hal secara langsung tanpa kata pembanding, misalnya dia adalah singa, tanpa memberi perilaku manusia pada benda mati. Sementara itu, perbedaannya dengan simile terlihat dari penggunaan kata pembanding yang eksplisit, seperti seperti, bagai, atau laksana.
Simile tidak menghidupkan benda mati, melainkan hanya menegaskan kesamaan sifat antara dua hal. Adapun yang membedakan personifikasi dengan hiperbola ialah tujuan pengungkapannya, dimana hiperbola menonjolkan unsur berlebihan untuk menimbulkan efek dramatis, seperti pada kata tangisannya membanjiri ruangan.
Penggunaan majas personifikasi dan contoh dapat ditemui dalam berbagai konteks, mulai dari karya sastra hingga pada tulisan sehari-hari. Berikut beberapa contohnya: