Dalam kehidupan bermasyarakat, gesekan dan perbedaan kepentingan hampir tidak bisa dihindari dan selalu muncul dalam berbagai bentuk pertentangan. Fenomena yang terjadi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari ini pun menjadi perhatian serius dalam kajian ilmu sosiologi.
Untuk pemahaman lebih dalam, penting untuk memahami pengertian konflik sosial menurut para ahli beserta faktor, bentuk, dan dampaknya bagi kehidupan. Karena itu, simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Pengertian konflik secara bahasa adalah pertentangan atau perselisihan, yang berasal dari bahasa Inggris conflict. Dalam ilmu sosiologi, istilah ini dipahami sebagai proses interaksi sosial antara individu maupun kelompok, ketika salah satu pihak berupaya melemahkan pihak lain melalui tekanan, ancaman, maupun tindakan kekerasan.
Secara umum, konflik sosial dalam masyarakat muncul saat individu atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan tujuan membuatnya tidak berdaya. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perbedaan karakter, latar belakang, hingga cara pandang dalam menjalin hubungan sosial.
Perbedaan ini juga bisa mencakup aspek fisik, tingkat kecerdasan, wawasan, adat istiadat, hingga keyakinan. Meski kerap dianggap negatif, pertentangan semacam ini sejatinya adalah bagian dari kehidupan bersama, sehingga mustahil jika suatu komunitas berjalan tanpa pernah mengalami pertentangan sama sekali.
Menjadi salah satu elemen penting dalam kehidupan, sejumlah tokoh sosiologi pun memberikan sudut pandangnya mengenai pertentangan ini. Adapun pengertian konflik menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Konflik menurut Soerjono Soekanto adalah pertentangan yang muncul akibat perbedaan antara individu dan kelompok sosial. Perbedaan tersebut umumnya berkaitan dengan kepentingan serta tujuan yang tidak sejalan. Ketidaksamaan ini kemudian memicu ancaman hingga tindakan kekerasan dalam proses interaksi sosial.
Sejalan dengan itu, Pruitt dan Rubin memandang pertentangan sebagai akibat dari perbedaan persepsi serta kepentingan. Kondisi ini kemudian melahirkan keyakinan bahwa harapan masing-masing pihak tidak dapat disatukan. Akibatnya, kedua belah pihak merasa aspirasinya saling bertolak belakang.
Gillin dan Gillin menempatkan pertentangan sebagai bagian dari proses interaksi sosial yang bersifat berlawanan (oppositional process). Situasi ini terjadi karena adanya perbedaan fisik, emosional, kebudayaan, maupun perilaku. Dengan kata lain, gesekan menjadi konsekuensi alami dari keberagaman manusia.
Sementara itu, Taquiri dan Davis menilai pertentangan sebagai warisan kehidupan sosial yang muncul akibat berbagai kondisi. Situasi tersebut kemudian memicu kontroversi dan perlawanan antara dua pihak atau lebih. Ketegangan ini pun cenderung berlangsung secara berkelanjutan dalam kehidupan bermasyarakat.
Penjelasan konflik sosial menurut para ahli selanjutnya dari Alabaness, yang memandang pertentangan sebagai kondisi ketidakteraturan dalam kehidupan sosial. Ketidakharmonisan antarindividu atau kelompok ini memicu perubahan sikap dan perilaku. Dampaknya dapat berupa tindakan menyimpang, ketidakjujuran, hingga perubahan pola interaksi.

Konflik sosial dalam masyarakat tidak akan muncul tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Adapun faktor penyebabnya adalah sebagai berikut:
Setiap orang memiliki latar belakang, pola pikir, serta sudut pandang yang berbeda. Perbedaan ini sering kali tidak disadari, tetapi muncul dalam proses interaksi sosial, sehingga berpotensi menyebabkan perselisihan dengan pihak lain.
Ketidaksepahaman ini dapat berkembang jika masing-masing pihak terus mempertahankan pandangannya dan tidak mau kompromi atau mengerti pihak lain. Saat ego tidak terkendali, pertentangan pun sulit dihindari, seperti pertengkaran antarpelajar di lingkungan sekolah.
Keberagaman budaya sering menjadi sumber gesekan dalam masyarakat majemuk. Ini karena setiap kelompok membawa adat, bahasa, serta tradisi yang berbeda-beda.
Konflik bisa menjadi semakin tajam ketika muncul sikap tertutup terhadap budaya lain. Rendahnya toleransi dan kecenderungan merendahkan kebudayaan pihak lain memperbesar potensi pertentangan.
Setiap orang maupun kelompok pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai. Ketika kepentingan tersebut saling bertabrakan, gesekan sosial pun muncul.
Perbedaan jenis ini bisa berkaitan dengan aspek ekonomi, politik, maupun sosial. Jika kepentingan pribadi lebih diutamakan dibanding kepentingan bersama, konflik pun berpotensi akan semakin meluas.
Perubahan sosial yang berlangsung cepat juga bisa memicu ketegangan. Pergeseran nilai akibat perkembangan teknologi, ekonomi, dan budaya dapat mengganggu keseimbangan lama.
Karena itu, kelompok yang merasa dirugikan atas perubahan ini cenderung melakukan perlawanan. Situasi ini dapat berkembang menjadi masalah serius jika tidak disertai dengan solusi yang adil.
Berdasarkan kedudukan pihak-pihak yang terlibat, konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk. Berikut penjelasannya:
Pertentangan vertikal terjadi antara kelompok dengan kedudukan sosial yang berbeda. Perselisihan ini biasanya melibatkan pihak berkuasa dan pihak yang berada di bawahnya.
Pemicu utama konflik ini adalah ketimpangan akses dan wewenang. Contohnya adalah tuntutan kenaikan upah oleh karyawan kepada manajemen perusahaan.
Jenis perselisihan horizontal muncul di antara kelompok dengan posisi setara. Gesekan ini biasanya dipicu oleh persaingan kepentingan satu pihak dengan pihak lainnya.
Meski tidak melibatkan perbedaan kelas sosial, dampak permasalahannya bisa meluas. Contohnya perselisihan antara ojek daring dan ojek konvensional dalam mencari pelanggan.
Selain berdasarkan kedudukannya, macam-macam konflik juga dibedakan berdasarkan sifat dan latar belakangnya. Berdasarkan sifatnya, pertentangan dibagi dua menjadi konflik laten dan manifest. Sedangkan menurut latar belakangnya, perselisihan dibagi dalam dua jenis yakni realistis dan non realistis.
Setiap pertentangan membawa konsekuensi bagi kehidupan bermasyarakat. Dampak ini bisa bersifat merugikan, tapi juga berpotensi memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan dari konflik sosial ini: