Home   Blog    Jurnalisme
Media

  Tuesday, 23 August 2022 13:25 WIB

Masa Depan Media dengan Ruang Redaksi Berbeda

Author   Tempo Institute

1-6-800x534

Pelatihan Independent Media Accelerator membuka wawasan baru tentang bagaimana media harus mengarungi perubahan yang dipicu oleh penyebaran teknologi informasi baru.

Zen RS, Pemimpin Redaksi Narasi, menerangkan bahwa perkembangan teknologi informasi terus melaju dengan membawa peluang baru. 

Perubahan ini harus disikapi dengan cara pikir dan cara kerja baru pula. Sebagian dari media yang menggunakan format online saat ini sebenarnya dijalankan oleh awak media dari format media lain; cetak dan studio televisi konvensional. 

Awak media ini sadar atau tidak mengoperasikan media baru dengan cara-cara di tempat kerja mereka sebelumnya. Misalnya mengandalkan proses kerja yang panjang dan kompleks, dengan peralatan kerja yang rumit dan mahal pula. Lalu pemilahan antara tim redaksi dengan tim produksi, di mana tim pertama dianggap lebih utama daripada yang kedua. Cara-cara seperti ini, meski pernah teruji berkualitas, membuat media baru bergerak lamban dan kurang adaptif terhadap kebutuhan era baru yang lebih gegas dan ringkas. 

Zen menawarkan gagasan yang diambil dari pengalamannya memimpin Narasi. Dia menyusun tim kerja berita (newsroom) dengan hubungan kerja yang lebih cair antara redaksi dan produksi. Tim redaksi tidak hanya harus paham tentang proses produksi multimedia berita, tapi juga bisa melakukan produksi secara mandiri, bila diperlukan. Sebaliknya tim produksi, diharuskan memiliki kepekaan jurnalistik dengan juga menyandang status sebagai jurnalis. Dengan perombakan ini, Narasi menjadi media yang lincah dan akrab dengan media sosial. 

Selanjutnya, Zen juga mengintensifkan aspek interaktif yang berkembang pesat pada era online ini. Konsumen berita harus diberi  kesempatan berinteraksi dengan redaksi dan dilibatkan dalam perancangan isi ke depan. 

Cara kerja seperti ini telah tersedia dalam berbagai platform saat ini, dan bisa dimanfaatkan secara intensif, sehingga media kini tak perlu lagi mengandalkan website yang operasionalnya rumit dan lamban. Situs maya, website, tidak lagi harus jadi andalan bagi media untuk hadir, produktif dan bermakna bagi publik. 


Semua perkembangan ini membutuhkan dukungan ekonomi yang didapat dari berbagai venture capital. Dukungan ini tentu punya konsekuensi, otonomi redaksi menyempit bahkan kadang kabur oleh tekanan pemodal. 

Semua ini bagian dari adaptasi media atas datangnya perubahan yang dibangkitkan oleh teknologi informasi. 

Adaptasi yang masih mencari bentuk, tapi harus dicoba agar media terus lestari dan bermakna bagi publik

Baca juga : Badan Siber dan Sandi Negara Akan Gandeng BIN, TNI, Polri

Bagikan
WordPress Image Lightbox