Hubungan waktu dalam sebuah kalimat tidak bisa dilepaskan dari peran konjungsi temporal sebagai penghubung antara keadaan dan peristiwa. Tanpa kehadiran unsur ini, urutan kejadian dalam teks akan sulit dipahami karena terasa kabur pemaknaannya.
Pemahaman mengenai jenis dan penggunaan kata penghubung ini penting agar sebuah tulisan menjadi lebih runtut dan logis. Lantas, sebenarnya apakah konjungsi waktu tersebut dan bagaimana jenis serta contohnya? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini:
Konjungsi temporal merupakan kata penghubung yang berfungsi menandai relasi waktu antara dua peristiwa atau klausa dalam satu kalimat. Chaer (2009) menjelaskan bahwa jenis kata hubung ini digunakan untuk menunjukkan urutan kejadian, baik yang berlangsung secara bersamaan maupun berkesinambungan.
Penghubung waktu ini tidak hanya menyatukan dua kalimat, tetapi juga memberikan penanda kapan suatu peristiwa terjadi, seperti pada kata ketika, sebelum, atau setelah. Kehadirannya membantu pembaca memahami alur tulisan secara kronologis agar menjadi lebih jelas dan sistematis.
Dalam praktiknya, kata hubung berbasis waktu ini kerap digunakan dalam berbagai pola pengembangan paragraf, misalnya pada teks narasi, berita, maupun cerita pengalaman. Adapun fungsi utamanya adalah untuk menjaga kesinambungan peristiwa agar antarbagian teks terasa saling terhubung.
Konjungsi temporal dalam teks prosedur berfungsi untuk menunjukkan urutan langkah secara sistematis agar pembaca dapat mengikuti tahapan kegiatan dengan benar dan runtut. Sementara itu, konjungsi temporal dalam teks berita digunakan untuk menyusun kronologi peristiwa secara jelas sehingga alur kejadian mudah dipahami oleh pembaca.
Dengan bantuan unsur ini, peristiwa yang berbeda tetap dapat disatukan dalam satu rangkaian yang logis.
Disebut juga sebagai konjungsi temporal koordinatif, ini adalah kata penghubung waktu yang mengaitkan dua klusa dengan kedudukan setara. Masing-masing klausanya bisa berdiri sendiri tanpa bergantung pada klausa lain.
Adapun contoh kata konjungsi temporal sederajat antara lain: lalu, kemudian, selanjutnya, setelahnya, sebelumnya, sebelum itu, sehabis itu.
Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut:

Dikenal juga sebagai konjungsi temporal subordinatif, jenis kata hubung ini berfungsi untuk menghubungkan klausa utama dengan anak kalimat yang bersifat saling bergantung agar terhubung satu sama lain. Hubungan waktu yang dibentuk biasanya lebih spesifik dan menunjukkan ketergantungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
Berikut adalah beberapa contoh dari kata konjungsi temporal tidak sederajat: sementara, ketika, semenjak, sejak, sedari, tatkala, apabila, saat, sampai.
Contoh kalimatnya antara lain:
Tanda baca menjadi salah satu elemen penting dalam penggunaan kata hubung agar struktur kalimat dan hubungan antarperistiwa tetap jelas. Ketika klausa anak yang menunjukkan waktu terletak di awal kalimat, umumnya digunakan tanda koma setelahnya untuk memisahkan dari klausa utama, sehingga pembaca dapat memahami alur waktu secara runtut.
Sebaliknya, apabila unsur penghubung waktu muncul setelah klausa utama, tanda koma biasanya tidak wajib digunakan di tengah kalimat. Penggunaan tanda baca yang konsisten akan membantu mencegah terjadinya salah tafsir dalam hubungan temporal antara dua peristiwa.
Tidak semua pedoman tata bahasa membuat aturan spesifik untuk setiap jenis kata penghubung, namun prinsip pemisahan klausa menurut kedudukan anak kalimat harus tetap dijaga. Dengan begitu, pembaca dapat menangkap kronologi kejadian secara lebih jelas dan struktur kalimat tidak terkesan terputus atau ambigu
Sebagai penghubung, konjungsi waktu memiliki fungsi khusus untuk menandai kapan suatu peristiwa terjadi terkait dengan peristiwa lain dalam satu kalimat. Unsur ini berfokus pada keterkaitan waktu, seperti urutan, durasi atau keterhubungan antara kejadian, sehingga pembaca dapat memahami konteks narasi atau instruksi secara jelas.
Berbeda dengan itu, jenis konjungsi lain memiliki tujuan semantik yang berbeda. Contohnya konjungsi kausalitas digunakan untuk untuk menjelaskan apa penyebab dan akibat dari suatu kejadian.
Ada juga kata hubung pertentangan yang digunakan untuk menyatukan dua kalimat yang saling bertentangan atau berlawanan. Dengan memahami fokus makna dari masing-masing jenis konjungsi, penulis dan pembaca dapat melihat perbedaan fungsi kata hubung meskipun bentuknya sama-sama berupa kata sambung.