Home   Blog  
Menulis

  Friday, 28 November 2025 12:00 WIB

5 Poin Penting Seputar Imbuhan dalam Bahasa Indonesia

Author   Raden Putri
5 Poin Penting Seputar Imbuhan dalam Bahasa Indonesia

Saat belajar bahasa Indonesia, kata imbuhan menjadi salah satu materi yang sering muncul. Meski terlihat sederhana, namun imbuhan sebenarnya memiliki peran penting dalam pembentukan arti dan struktur kalimat.

Promo Jelang Akhir Tahun

Tanpa bentuk tambahan kata, kita akan kesulitan mengekspresikan tindakan, menunjuk pelaku, atau menjelaskan proses suatu kegiatan. Karena itu, memahami imbuhan adalah langkah dasar yang wajib dikuasai siapa pun yang ingin menulis atau berbicara dengan lebih baik. Berikut adalah 5 poin penting seputar imbuhan dalam bahasa Indonesia.

5 Poin Penting Seputar Imbuhan

Kata imbuhan adalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata dasar, baik di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari ketiganya untuk membentuk diksi baru yang tetap berkaitan dengan bentuk asalnya.

Kata imbuhan atau afiks berasal dari kata dasar imbuh, yang dalam bahasa Indonesia berarti tambahan atau sesuatu yang ditambahkan. Dari diksi dasar tersebut, terbentuk imbuhan yang secara harfiah berarti hal yang ditambahkan.

Dalam konteks linguistik, afiks merujuk pada bentuk bunyi atau morfem yang ditambahkan pada kata dasar untuk membentuk makna baru, kelas kata baru, atau fungsi baru dalam kalimat. Jadi, secara etimologis maupun fungsinya, afiks mengacu pada proses menambahkan bentuk bahasa pada sebuah diksi.

Berikut beberapa hal penting yang perlu dipahami agar penggunaan kata tambahan itu menjadi lebih tepat dan efektif.

1. Jenis-jenis Imbuhan

Dalam bahasa Indonesia, afiks dibagi menjadi empat jenis, yakni awalan, akhiran, awalan–akhiran, dan sisipan. Penjelasan mengenai macam-macam imbuhan adalah sebagai berikut:

Prefiks (awalan): Ditempatkan di depan kata dasar dan biasanya membentuk frasa kerja atau benda. Misalnya me-, di-, ke-, se-, ber-, pe-, dan lainnya

Sufiks (akhiran): Berada di akhir kata yang sering membentuk kata benda atau memberi makna tindakan. Seperti -kan, -i, -an.

Konfiks (awalan–akhiran): Berada di awal dan akhir kata untuk memberi bentuk baru yang lebih kompleks. Seperti ke-…-an, pe-…-an, per-…-an

Infiks (sisipan): Ditempatkan di dalam kata dasar, misalnya -el-, -em-, -er-

Contoh:

  • Awalan: meng + hitung → menghitung
  • Akhiran: ajar + -an → ajaran
  • Konfiks: ke-…-an + indah → keindahan
  • Sisipan: gigi → gerigi

2. Aturan Pembentukan Kata Berimbuhan

Setiap imbuhan memiliki aturan yang perlu dipahami agar hasil katanya sesuai kaidah bahasa Indonesia. Aturan ini disebut perubahan morfologis dan membantu istilah terdengar lebih alami ketika diucapkan. Adapun aturan tersebut adalah:

  • Awalan me- akan berubah menjadi men-, mem-, meny-, atau meng- sesuai huruf awal kata dasarnya.
  • Akhiran seperti -i dan -kan, yang penggunaannya tidak bisa dipertukarkan karena memiliki fungsi yang berbeda.

Contoh:

  • me- + pakai → memakai
  • me- + tulis → menulis
  • me- + kirim → mengirim

3. Perubahan Makna dan Kelas Kata

Salah satu fungsi paling penting dari imbuhan adalah kemampuannya mengubah makna kata dasar. Diksi yang awalnya netral bisa berubah menjadi menunjukkan proses, hasil, pelaku, atau objek setelah diberi bentukan tambahan. 

Karena itu, makna imbuhan membuat bahasa Indonesia lebih kaya dan fleksibel dalam menyampaikan pesan. Perubahan makna ini harus dipahami agar tidak salah memilih morfem terikat saat menulis.

Kata ajar, misalnya, dapat berubah menjadi mengajar (verba) atau pengajar (nomina) bergantung morfem terikat yang dipakai. Berikut contoh kalimat imbuhan lainnya:

  • main → bermain (kegiatan)
  • main → pemain (pelaku)
  • main → mainan (benda)

4. Perubahan Bentuk Ejaan (Morfophonemik)

Ketika imbuhan ditambahkan, bentuk kata dasar sering mengalami perubahan ejaan agar lebih mudah diucapkan. Perubahan ini disebut morfophonemik, misalnya penghilangan huruf, penambahan huruf, atau penyesuaian bunyi.

Perubahan tersebut bukan kesalahan, tetapi justru mengikuti sifat alami bahasa yang menyesuaikan diri agar tetap enak didengar.

Contoh:

  • sapu + pe- → penyapu (huruf s berubah menjadi ny)
  • cat + me- → mengecat (awalan menjadi menge-)
  • bom + me- → mengebom

5. Fungsi dan Kegunaan dalam Kalimat

Imbuhan tidak hanya memodifikasi kata, tetapi juga menentukan bagaimana frasa tersebut berperan dalam kalimat. Dengan bentukan tambahan, kata dasar dapat berubah menjadi subjek, predikat, objek, atau keterangan.

Kelas Online Teknik Menulis untuk Pemula

Imbuhan membuat kalimat lebih jelas dan efektif, sekaligus membantu penulis menyesuaikan nuansa yang ingin disampaikan.

Contoh:

  • “Ia membaca buku.” (imbuhan me- membentuk predikat)
  • “Pembaca itu sangat teliti.” (imbuhan pe- membentuk subjek)
  • “Buku itu harus dibaca.” (imbuhan di- membentuk kalimat pasif)
Banner Belajar Menulis Penulisan di Tempo Institute

Bagikan