Kalimat majemuk adalah susunan bahasa yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk tulisan ilmiah, artikel, maupun percakapan biasa. memiliki struktur kalimat yang kaya, jenis ini memungkinkan untuk ide disampaikan dengan lebih jelas, runut, dan saling terhubung.
Dengan memahami konsep ini, kamu bisa menyusun kalimat yang lebih variatif dan bermakna. Lantas, seperti apa sebenarnya kalimat majemuk tersebut? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Kalimat majemuk adalah susunan kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih, dengan setiap klausa pada dasarnya dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri. Dalam satu rangkaian ini, unsur seperti subjek, predikat, objek, atau pelengkap bisa muncul lebih dari satu kali.
Secara sederhana, bentuk ini tersusun dari penggabungan dua kalimat tunggal yang disatukan menjadi satu kesatuan baru. Proses penggabungan tersebut membuat strukturnya menjadi lebih panjang dibandingkan susunan kata sederhana.
Agar hubungan antarbagian tetap jelas, klausa-klausa tersebut biasanya dihubungkan oleh kata sambung atau konjungsi. Beberapa penghubung yang umum dipakai antara lain kata dan, tetapi, jika, karena, serta sehingga untuk menunjukkan relasi makna.
Penggunaan susunan ini sangat efektif ketika penulis ingin menjelaskan ide utama secara lebih rinci tanpa harus memecahnya menjadi beberapa kalimat terpisah. Dengan begitu, pesan yang disampaikan tetap ringkas sekaligus mudah dipahami pembaca.
Berdasarkan perbedaan kedudukan antara klausa utama dan tambahannya, jenis kalimat majemuk digolongkan menjadi empat kategori, yakni:
Jenis ini tersusun dari dua klausa yang memiliki kedudukan sejajar dan sama kuat. Masing-masing klausa dapat berdiri sendiri tanpa kehilangan makna.
Hubungan antarklausa biasanya ditandai dengan konjungsi koordinatif seperti dan, atau, tetapi, dan sedangkan. Jika dipisahkan, kedua klausa tersebut tetap mampu membentuk kalimat yang utuh.
Pada bentuk bertingkat, klausa-klausa yang menyusunnya memiliki posisi yang tidak sejajar. Satu klausa berperan sebagai inti, sementara klausa lainnya berfungsi sebagai penjelas.
Klausa tambahan ini tidak memiliki makna lengkap jika berdiri sendiri. Hubungan kedua klausanya umumnya ditandai dengan konjungsi subordinatif seperti karena, agar, meskipun, ketika, atau sehingga.
Jenis campuran menggabungkan ciri susunan pada kelompok setara dan bertingkat dalam satu kalimat yang sama. Bedanya, struktur ini biasanya terdiri dari tiga klausa atau lebih.
Di dalamnya, terdapat klausa yang sejajar sekaligus klausa yang bergantung pada klausa lain. Karena itu, pola kalimatnya menjadi lebih kompleks dan menggunakan lebih dari satu kata hubung.
Merupakan bentuk tuturan yang tersusun dari beberapa klausa dengan unsur sejenis sehingga bagian yang sama tidak perlu diulang. Perapatan unsur dilakukan untuk membuat susunan bahasa menjadi lebih ringkas, efektif, dan mudah dipahami.
Penggabungan ini umumnya memanfaatkan konjungsi koordinatif agar hubungan antarklausa tetap jelas. Dengan teknik tersebut, penyampaian informasi menjadi padat tanpa mengubah makna utama.

Terdapat sejumlah ciri khas yang membedakan struktur ini dari bentuk lainnya. Adapun ciri-ciri kalimat majemuk adalah sebagai berikut:
Salah satu cirinya adalah adanya pengembangan dari kalimat inti yang memuat gagasan utama. Perluasan tersebut muncul dalam bentuk penambahan klausa penjelas.
Akibatnya, satu kalimat bisa memuat dua klausa atau lebih. Pengembangan ini dilakukan untuk menjelaskan ide yang lebih kompleks.
Dengan adanya klausa tambahan, pola dasar kalimat pun ikut berubah. Awalnya, kalimat hanya mengikuti struktur sederhana seperti S–P atau S–P–O.
Setelah diperluas, pola tersebut berkembang sesuai dengan struktur klausa tambahan. Inilah yang membuat susunannya tampak lebih variatif.
Ciri berikutnya adalah munculnya lebih dari satu subjek atau predikat dalam satu rangkaian kalimat. Hal ini terjadi karena setiap klausa memiliki unsur pembentuknya sendiri.
Penambahan unsur tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan penyampaian informasi. Akibatnya, struktur kalimat menjadi lebih panjang dan kaya makna.
Antarklausa dalam satu kalimat tidak disusun secara acak, melainkan diikat oleh kata hubung. Konjungsi berperan penting untuk memperjelas hubungan logis antarbagiannya.
Tanpa penghubung, pembaca akan kesulitan memahami maksud kalimat. Oleh karena itu, kata sambung menjadi unsur penting yang tidak terpisahkan.
Selain itu, susunan ini juga umumnya memuat lebih dari satu informasi dalam satu kalimat. Pada bentuk setara, setiap klausa bahkan dapat memiliki ide pokok sendiri.
Sementara itu, pada bentuk bertingkat dan campuran, informasi utama didukung oleh keterangan tambahan. Hal ini membuat penyampaian pesan menjadi lebih lengkap.
Tidak semua klausa dalam satu kalimat memiliki makna sendiri jika dipisahkan satu sama lain. Pada bentuk bertingkat dan campuran, klausa tambahan sangat bergantung pada klausa utama.
Oleh karena itu, tanpa konteks klausa inti, maknanya akan menjadi tidak utuh. Berbeda dengan bentuk setara, di mana setiap klausa tetap bermakna secara mandiri.
Untuk lebih memahami materi ini, simak contoh penerapannya berikut ini: