Banyak mahasiswa merasa bingung saat diminta untuk menilai artikel ilmiah secara objektif. Padahal, memahami cara review jurnal ini menjadi kunci penting agar bisa membaca penelitian dari sudut pandang yang lebih tajam dan terstruktur.
Lantas, bagaimana sebenarnya cara untuk review jurnal yang baik dan benar? Melalui artikel ini, kamu akan diajak memahami konsep, tujuan, hingga langkah-langkah dalam mereviu artikel ilmiah secara sistematis. Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Review jurnal adalah aktivitas menilai sebuah artikel ilmiah dengan melihat kekuatan, keterbatasan, serta pokok bahasan yang diangkat. Tujuan dari kegiatan ini adalah membantu pembaca memahami urgensi dan kontribusi tulisan ilmiah melalui penjelasan, penelusuran, serta klarifikasi isi artikel.
Dalam proses mereview jurnal, dibutuhkan ketelitian saat membaca karya ilmiah agar penulis dapat membuat ulasan dari sudut pandang pribadi secara objektif. Hal ini karena aktivitas ini juga mencakup evaluasi kualitas penelitian, mulai dari kelengkapan data hingga ketepatan analisis.
Oleh karena itu, seorang reviewer dituntut mampu menilai akurasi penelitian. Mereka juga harus bisa menyampaikan komentar serta memberikan saran dan rekomendasi bermanfaat bagi pembaca maupun pengembang riset selanjutnya.
Melakukan ulasan artikel ilmiah bukan sekadar untuk memenuhi tugas akademik, tapi juga membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis seseorang. Berikut beberapa tujuan lain dari kegiatan ini:
Agar hasil review jurnal tersusun rapi dan mudah dipahami pembaca, dibutuhkan format penulisan yang sistematis. Berikut adalah isi struktur dan format review jurnal yang umum dipakai:
Sebagai informasi, jumlah halaman dari ulasan artikel ilmiah ini dapat bervariasi tergantung kebutuhan. Meski begitu, umumnya ulasan ini terdiri dari 6-8 halaman untuk artikel jurnal standar.

Terdapat sejumlah tahapan yang harus dilakukan agar bisa membuat penilaian karya ilmiah berkualitas dan bermanfaat bagi pembaca. Berikut adalah langkah-langkah review jurnal yang benar.
Mereview jurnal dimulai dari membaca keseluruhan isi artikel dari awal hingga akhir. Proses ini sebaiknya dilakukan dengan fokus dan lebih dari satu kali agar setiap bagian dapat dipahami dengan baik.
Pemahaman menyeluruh terhadap isi tulisan akan memudahkan penilaian pada tahap berikutnya. Ketelitian membaca juga menjadi fondasi utama dalam menyusun ulasan yang objektif.
Dalam mengulas suatu karya ilmiah, tujuan penelitian perlu dicermati karena menjadi tolok ukur keberhasilan studi. Bagian ini membantu menilai apakah penelitian memiliki arah dan fokus yang jelas.
Latar belakang kajian juga penting diperhatikan untuk melihat urgensi topik yang diangkat. Dari sini, tingkat kepentingan penelitian dapat dianalisis secara lebih mendalam.
Tahap berikutnya adalah meninjau metodologi penelitian, dari mulai pendekatan, teknik pengambilan sampel, instrumen pengumpulan data, hingga metode analisis. Metodologi ini perlu dinilai kesesuaiannya dengan tujuan penelitian.
Kejelasan pemaparan metode menjadi aspek penting dalam menilai kualitas suatu riset. Selain itu, potensi bias dan keterbatasan metode juga perlu diperhatikan.
Bagian hasil penelitian harus dianalisis untuk melihat apakah temuan disajikan secara jelas dan sistematis. Penyajian data harus selaras dengan metode yang digunakan sebelumnya.
Selain itu, hasil penelitian juga perlu dilihat relevansinya dengan tujuan kajian. Kejelasan data menjadi indikator penting dari kredibilitas suatu penelitian.
Pada bagian pembahasan, penulis artikel biasanya menginterpretasikan hasil penelitian yang diperoleh. Ulasan ini perlu menilai ketepatan interpretasinya terhadap data yang disajikan.
Selain itu, penting untuk melihat apakah penulis memberikan analisis tambahan. Implikasi hasil terhadap teori atau praktik juga akan menjadi fokus penilaian.
Selanjutnya, kamu harus menentukan kelebihan dan kekurangan jurnal. Tahap ini memang tidak mudah, tetapi tetap bisa dilakukan secara objektif.
Penilaian dapat dimulai dari kejelasan penulisan dan alur argumen, kemudian perhatian konsistensi logika serta kontribusi kajian terhadap bidang ilmu pengetahuan. Dari sini, saran perbaikan untuk penelitian lanjutan dapat dirumuskan.
Setelah semua poin dianalisis, langkah terakhir adalah menyusun ulasan secara sistematis sesuai format. Gunakan bahasa formal, lugas, dan netral agar penilaian tetap objektif.
Catatan dan hasil analisis sebelumnya dapat dijadikan kerangka penulisan. Dengan begitu, review yang dihasilkan akan lebih terarah dan mudah dipahami.
Untuk lebih memahami cara mengulas artikel ilmiah, simak contoh review jurnal singkat berikut ini:
Judul: Vision, Innovation, and Leadership in Research Libraries
Penulis: Ronald C. Jantz
Jurnal: Library and Information Science Research
Identifikasi: Volume 39, Issue 3, Juli 2017, halaman 234–241
Tujuan Penelitian:
Penelitian ini bertujuan menelaah kualitas pernyataan visi dan misi pada perpustakaan riset serta mengkaji keterkaitannya dengan dua karakteristik organisasi, yaitu tingkat inovasi dan ukuran institusi.
Hipotesis:
Kerangka Pemikiran:
Visi perpustakaan memengaruhi kinerja inovasi, yang selanjutnya berdampak pada kinerja perpustakaan secara keseluruhan.
Populasi dan Sampel:
Populasi penelitian mencakup perpustakaan di Amerika Serikat yang tergabung dalam Association of Research Libraries. Sampel terdiri atas 50 perpustakaan yang telah dihubungi dan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam studi inovasi.
Metode Pengambilan Sampel:
Setiap perpustakaan menunjuk tiga hingga empat orang anggota untuk mengikuti penelitian. Rata-rata jumlah anggota tim yang terlibat adalah 3,6 orang. Selanjutnya, survei daring dikirimkan kepada seluruh partisipan dari 50 perpustakaan tersebut.
Metode Penelitian:
Para pimpinan perpustakaan yang terlibat diminta merespons sejumlah pertanyaan terkait perubahan organisasi, lingkungan eksternal, ketangkasan organisasi, tim manajemen, struktur kelembagaan, aspek demografis, serta inovasi yang diterapkan di institusi masing-masing.
Isi dan Pembahasan:
Pada pengujian H1, analisis Korelasi Pearson digunakan untuk melihat hubungan antara pernyataan visi dan kinerja inovasi. Hasil menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan pada tingkat 0,01 dengan nilai r(31) = 0,45 dan p < 0,01 (dua sisi), sehingga H1 dinyatakan didukung. Sementara itu, pengujian H2 tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik, sehingga hipotesis tersebut tidak memperoleh dukungan. Dengan demikian, tidak ditemukan keterkaitan antara pernyataan visi dan ukuran organisasi.
Kesimpulan:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan dengan pernyataan visi yang kuat berdasarkan tujuh atribut visi cenderung memiliki tingkat inovasi yang lebih tinggi. Faktor yang memengaruhi kondisi ini diduga berkaitan dengan visi kepemimpinan, peran pemimpin, serta gaya dan karakter pribadi pemimpin yang tercermin dalam pernyataan visi. Di sisi lain, ukuran organisasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan skor pernyataan visi. Temuan ini mengindikasikan bahwa visi membantu pimpinan perpustakaan menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang tanpa dipengaruhi oleh besar kecilnya organisasi.
Kekurangan:
Penelitian ini tidak menyertakan data mengenai sejauh mana komunikasi visi dilakukan di masing-masing perpustakaan. Akibatnya, proses penyampaian dan penerapan visi sulit dipahami secara mendalam dalam konteks penelitian yang terbatas.
Keunggulan:
Studi ini menghadirkan indikator inovasi yang jelas serta memberikan pemahaman mengenai peran komunikasi visi dalam mendukung kinerja organisasi.