Home   Blog  
Jurnalisme

  Wednesday, 21 January 2026 10:00 WIB

Berita Hoax: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengenalinya

Author   Raden Putri
Berita Hoax: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengenalinya

Berita hoax kerap menyelinap dan menyamar sebagai fakta di tengah derasnya arus informasi digital. Sekali tersebar, informasi palsu itu bisa membentuk opini publik dengan kuat hanya dalam hitungan menit, tanpa disertai verifikasi secara mendalam.

Paket Belajar dengan Kurikulum yang Dirancang Khusus cuma Setengah Harga

Jika tidak bersikap kritis, masyarakat berisiko terjebak pada narasi keliru yang bisa memberikan dampak negatif secara luas. Lantas, bagaimana sebenarnya cara mengenali berita hoax di media sosial? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.

Pengertian Berita Hoax

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoax atau hoaks berarti informasi bohong. Adapun berita hoax adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disajikan seolah-olah sebagai fakta.

Konten semacam ini dibuat tanpa dasar data yang valid dan sering kali bertujuan memengaruhi opini publik. Penyebarannya pun banyak terjadi melalui media sosial karena sifatnya yang cepat, luas, dan sulit dikendalikan.

Berita hoax yang viral bisa memicu kesalahpahaman, kepanikan, hingga konflik di tengah masyarakat. Informasi palsu ini juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap media dan institusi resmi yang menjadi objek kebohongan.

Banner Survey Tempo Institute

Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis dan memverifikasi sumber menjadi sangat penting dalam menghadapi arus informasi digital yang serba cepat. Penyebaran informasi palsu juga membawa konsekuensi serius bagi kehidupan sosial, politik, dan media. 

Hal ini terjadi karena dampak berita hoax dapat memengaruhi cara berpikir seseorang hingga stabilitas masyarakat secara luas. Adapun beberapa dampak lainnya adalah sebagai berikut:

  • Pembentukan Opini Keliru: pandangan individu atau kelompok dapat diarahkan pada kesimpulan yang salah dan menyesatkan.
  • Distorsi Informasi Publik: masyarakat kesulitan memperoleh data yang benar sehingga proses pengambilan keputusan menjadi tidak tepat.
  • Meningkatkan Konflik Sosial: berita hoax yang dipelintir untuk menjelekkan suatu pihak akan menimbulkan rasa curiga, permusuhan, hingga potensi kerusuhan.
  • Mendorong Radikalisme: narasi palsu berpotensi memperkuat fanatisme dan polarisasi di tengah masyarakat.
  • Melemahkan Integrasi Nasional: persatuan nasional dapat terancam oleh berkembangnya gerakan ekstrem berbasis disinformasi.
  • Menurunkan Kepercayaan pada Media dan Pemerintah: maraknya kasus berita hoax membuat media kredibel tersaingi dan citra pemerintah ikut terdampak negatif.

Ciri-ciri Berita Hoax

Berita hoax

Informasi menyesatkan memiliki pola tertentu yang bisa dikenali sejak awal. Dengan mengetahui karakteristiknya, pembaca diharapkan lebih berhati-hati sebelum mempercayai suatu berita. Berikut beberapa cirinya:

  • Menimbulkan kecemasan, kebencian, permusuhan, atau pemujaan berlebihan.
  • Sumber informasi tidak jelas dan tidak dapat diverifikasi.
  • Pesan bersifat sepihak tanpa menyajikan data yang seimbang.
  • Mencatut nama tokoh terkenal untuk menarik perhatian.
  • Menggunakan nama media yang menyerupai institusi pers kredibel.
  • Memanfaatkan fanatisme ideologi atau agama.
  • Judul dan isi tidak selaras atau saling bertentangan.
  • Bahasa dan tampilan bersifat provokatif serta emosional.
  • Mengajak pembaca untuk segera membagikan atau memviralkan konten.

Cara Mengenali Berita Hoax

Kunci utama untuk menghadapi banjir informasi di era ini adalah dengan meningkatkan kemampuan literasi digital. Dengan langkah sederhana, masyarakat dapat membedakan fakta dan kabar bohong. Berikut beberapa cara mengenali berita hoax di Indonesia:

1. Verifikasi Sumber Informasi

Periksa rekam jejak sumber media atau akun penyebar konten tersebut. Platform terpercaya umumnya memiliki identitas jelas dan standar jurnalistik.

2. Bandingkan dengan Media Lain

Saat menemukan berita hoax terbaru, cari pemberitaan serupa dari lebih dari satu sumber kredibel lainnya. Jika hanya muncul di satu kanal tidak dikenal, patut dicurigai.

3. Analisis Gaya Bahasa

Konten palsu sering menggunakan kalimat provokatif dan menggugah emosi. Informasi faktual cenderung disampaikan secara netral dan proporsional.

4. Periksa Tanggal dan Konteks

Informasi lama yang disebarkan ulang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, pastikan konteks peristiwa apakah masih relevan dengan kondisi saat ini.

5. Manfaatkan Situs Pemeriksa Fakta

Gunakan layanan seperti TurnBackHoax, Google Fact Check, atau CekFakta.com untuk memeriksa berita yang didapat. Platform tersebut membantu memverifikasi kebenaran klaim yang beredar.

Banner Kelas Bundling


Bagikan