Home   Blog    Jurnalisme  Kiat  Media Sosial  Menulis
Produktivitas

  Sunday, 24 July 2022 08:46 WIB

Beberapa Jenis Hoaks yang Wajib Kamu Ketahui

Author   Tempo Institute

tempo5

Berdasarkan data dari We Are Social, pengguna media sosial aktif di Indonesia mencapai 191 juta pengguna per Januari 2022. Angka ini bisa terus meningkat, mengingat makin banyak platform baru bermunculan. Bersamaan dengan arus banjir informasi ini, muncul informasi-informasi yang belum tentu benar atau hoaks (hoax). Secara harfiah, hoaks artinya cerita bohong, berita bohong yang bermaksud untuk membuat publik kebingungan dan merasa tidak aman.

Hoaks muncul karena berbagai alasan, salah satunya karena ada kepentingan dari oknum, ingin menggiring opini publik dan lain sebagainya. Jika diruntut dari sejarahnya, hoaks muncul bersamaan dengan kehadiran media (dalam konteks ini adalah pers), yang di awal kemunculannya digunakan sebagai propaganda politik. Melansir dari laman CITS Universitas California Santa Barbara, di abad ke-17 berita palsu digunakan sebagai mesin propaganda Nazi. Saat itu belum muncul istilah hoaks.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam Modul Literasi Digital yang mereka susun untuk perguruan tinggi, menyebutkan jika literasi digital sangat penting dipahami oleh masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks. Salah satu cara untuk meningkatkan literasi digital ialah dengan memahami hoaks sebagai salah satu gangguan informasi. Gangguan ini bisa disebabkan beberapa faktor, antara lain:

1. Misinformasi

Misinformasi ini menjadi salah satu gangguan informasi yang paling kerap terjadi di tengah masyarakat. Gangguan ini terjadi akibat masih rendahnya literasi digital di Indonesia. Banyak masyarakat yang mudah memercayai secara mentah informasi yang ia peroleh, terlebih jika informasi itu datang dari orang yang dikenal. Padahal orang yang memberikan informasi tersebut juga tidak mengetahui apakah informasi yang disebarkan tersebut benar adanya. Salah satu contoh misinformasi yang cukup terkenal ialah kasus Ratna Sarumpaet yang mengaku mengalami kekerasan. Kolega Ratna yang mendapat informasi ini langsung menyebarkan informasi itu ke media sosial karena percaya dengan pernyataan Ratna. Setelah diselidiki ternyata Ratya Sarumpaet berbohong. 

2. Disinformasi

Sedikit berbeda dengan misinformasi, disinformasi merupakan gangguan informasi yang disebabkan oleh kesengajaan penyebar informasi menyebarkan informasi yang kurang tepat. Meski sudah tahu informasi yang disebarkan tidak tepat, penyebar informasi tetap menyebarkannya. Tujuannya menyebarkan beragam, bisa sengaja untuk memancing emosi seseorang, bahan candaan, dan alasan lain.

3. Malinformasi

Gangguan informasi selanjutnya ialah malinformasi, yang jauh lebih kompleks. Malinformasi ialah tindakan menyalahgunakan informasi untuk keperluan pribadi/kelompok. Misalnya propaganda politik yang bertujuan untuk menjatuhkan lawannya dengan menyebarkan informasi rahasia.

Baca juga : Badan Siber dan Sandi Negara Akan Gandeng BIN, TNI, Polri

Bagikan
WordPress Image Lightbox