Keberagaman budaya sering memicu munculnya anggapan bahwa suatu tradisi lebih unggul dibanding tradisi lain. Sikap etnosentrisme adalah pandangan yang membuat seseorang merasa budaya sendiri sebagai pusat segalanya.
Oleh karena itu, penting untuk memahami sikap ini karena akan sangat memengaruhi cara pandang kita terhadap orang dan kelompok lain. Namun, sebenarnya apa itu etnosentrisme? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian etnosentrisme merupakan pandangan yang berpusat pada masyarakat dan kebudayaan sendiri. Sikap ini biasanya disertai dengan kecenderungan meremehkan kebudayaan lain.
Sebagai orang pertama yang memperkenalkan istilah ini, William Graham Sumner menjelaskan bahwa paham etnosentrisme adalah cara pandang yang menempatkan kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu. Dalam sudut pandang ini, kelompok lain dinilai dan diukur berdasarkan standar budaya miliknya.
Secara lebih spesifik, paham ini menggambarkan persepsi individu atau kelompok yang menilai budaya lain dengan tolak ukur budaya sendiri, serta meyakini kebudayaannya lebih baik dari milik orang lain.
Unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, adat istiadat, kebiasaan, perilaku, hingga agama seringkali dijadikan sebagai simbol kebanggaan yang ditonjolkan dalam pola pikir ini.
Etnosentris juga seringkali disamakan dengan primordialisme, sebuah paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak lahir, seperti suku, agama, ras, atau adat istiadat. Ikatan emosional terhadap identitas tersebut sangat kuat dan sering menjadi dasar solidaritas dalam kelompok.
Meski begitu, kedua pola pikir tersebut berbeda satu sama lain. Etnosentrisme berkaitan dengan cara menilai budaya lain menggunakan ukuran budaya sendiri, sedangkan primordialisme lebih menekankan pada loyalitas kuat terhadap identitas asal yang diwariskan sejak lahir.

Cara pandang yang terlalu berpusat pada kelompok sendiri ini tentu tidak akan muncul begitu saja. Terdapat sejumlah faktor yang mendorong terbentuknya sikap etnosentrisme, antara lain:
Pengalaman masa lalu suatu kelompok dapat berkembang menjadi identitas kolektif yang kuat. Warisan berupa bahasa, tradisi, serta kisah perjuangan leluhur sering menumbuhkan rasa memiliki yang kuat sehingga memicu kebanggaan berlebih terhadap asal-usulnya.
Keberagaman suatu bangsa dalam hal suku, ras, agama, dan golongan dapat berpotensi memunculkan persaingan antarkelompok. Ketika setiap kelompok berupaya mempertahankan atau memperluas pengaruhnya, muncul kecenderungan untuk mengunggulkan identitas masing-masing.
Upaya meraih atau mempertahankan kekuasaan seringkali melibatkan sentimen identitas. Dalam hal ini, fanatisme terhadap latar budaya tertentu kerap dimanfaatkan sebagai alat legitimasi demi kepentingan pribadi maupun golongan.
Salah satu penyebab munculnya sikap etnosentris adalah prasangka sosial, yang kerap berakar dari perbandingan atau penilaian tidak objektif. Sikap semacam ini dapat menghambat komunikasi, terutama ketika individu berasal dari latar etnik atau budaya berbeda.
Tingkat penerimaan seseorang terhadap kelompok lain turut memengaruhi hubungan sosial yang terjalin. Semakin besar jarak sosial yang dibuat dan dirasakan, semakin kuat pula kecenderungan untuk membatasi interaksi dan menilai kelompok lain secara sepihak.
Pola pikir yang berpusat pada kebudayaan sendiri dapat membawa dampak positif maupun negatif, tergantung cara kita menyikapinya dalam kehidupan sosial. Adapun dampak dari etnosentrisme adalah sebagai berikut.
Rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri dapat mendorong semangat membela dan menjaga warisan leluhur. Kebanggaan ini sering berkembang menjadi jiwa patriotisme yang memperkuat solidaritas internal suatu kelompok.
Pandangan yang mengutamakan budaya sendiri dapat memperkuat komitmen seseorang atau kelompok untuk melestarikan tradisi. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, rasa memiliki yang timbul dari sikap etnosentris ini membantu menjaga keberlangsungan nilai-nilai lokal.
Kesadaran akan identitas masing-masing kelompok dapat mempertegas posisi mereka dalam kerangka kebhinekaan. Dalam konteks Indonesia, hal ini selaras dengan prinsip persatuan dalam keberagaman.
Di sisi lain, sikap yang berlebihan ini juga dapat memicu berbagai persoalan sosial. Berikut beberapa dampak yang mungkin muncul:
Untuk lebih memahami konsep ini, simak beberapa contoh sikap etnosentrisme yang kerap muncul dalam kehidupan sosial sehari-hari berikut ini: