Fenomena alam dan sosial seringkali terjadi tanpa kita pahami proses di baliknya. Melalui teks eksplanasi, pembaca diajak menelusuri sebab, tahapan, hingga dampak suatu peristiwa secara runtut dan logis.
Jenis tulisan ini membantu pembaca untuk melihat dunia tidak sekadar dari hasil akhirnya, tapi juga dari proses terbentuknya. Lantas, seperti apa sebenarnya bentuk tulisan tersebut dan bagaimana contoh teks eksplanasi? Simak rangkuman informasi lebih lanjut berikut ini.
Secara umum, teks eksplanasi adalah jenis tulisan yang dibuat untuk menjelaskan cara kerja atau alasan terjadinya suatu peristiwa secara mendalam. Fungsi utama dari karangan ini adalah untuk memberikan penjelasan terkait hubungan sebab-akibat, aspek-aspek penting, serta proses terjadinya suatu peristiwa.
Pemaknaan terhadap teks ini dapat bervariasi, tergantung sudut pandang para ahli yang yang mengkajinya. Adapun pengertian teks eksplanasi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Menurut Pardiyono, teks eksplanatif adalah tulisan yang berfungsi memaparkan proses terjadinya suatu fenomena. Peristiwa tersebut tidak terbatas pada alam, tetapi juga mencakup gejala sosial dalam kehidupan masyarakat.
Knapp dan Watkins memandang eksplanasi memiliki dua orientasi utama. Orientasi pertama berfokus pada pertanyaan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi, sedangkan orientasi kedua menyoroti kemungkinan kemunculan fenomena tersebut dalam konteks tertentu.
Sementara itu, Tomi Rianto menjelaskan bahwa eksplanasi merupakan bentuk tulisan yang mengulas proses dan latar belakang terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa itu bisa berasal dari ranah alam, sosial, budaya, hingga ilmu pengetahuan.
Setiap jenis tulisan memiliki karakteristik yang membedakannya dengan jenis lain. Adapun ciri-ciri teks eksplanatif adalah sebagai berikut:
Isi tulisan teks eksplanasi fenomena alam didasarkan pada data nyata dan dapat diverifikasi kebenarannya. Pembahasannya pun disusun secara ilmiah, bukan hasil imajinasi penulis.
Fenomena yang dibahas dalam teks ini berkaitan erat dengan disiplin ilmu tertentu. Misalnya, gempa bumi dianalisis melalui pendekatan geografi, sedangkan demonstrasi dikaji dari sudut sosiologi.
Saat membuat teks eksplanasi, tulisan harus menyajikan informasi relevan dan sesuai kebutuhan pembaca. Dukungan teori serta kajian ilmiah sebelumnya akan membantu memperluas wawasan dan perspektif.
Karangan ini tidak dibuat dengan tujuan untuk memengaruhi pendapat pembaca. Fokusnya terletak pada pemaparan fakta, pemberian informasi, dan proses sebab-akibat secara objektif.
Penyusunan teks ini harus mengikuti pola runtut dan logis agar dapat dipahami oleh pembaca. Umumnya strukturnya diawali oleh pernyataan umum, dilanjutkan urutan peristiwa, lalu ditutup interpretasi.

Pemahaman struktur teks eksplanasi penting untuk dipahami sebelum membuat tulisannya. Susunan yang tepat membuat penjelasan menjadi lebih sistemtis dan mudah dipahami. Adapun susunannya adalah sebagai berikut:
Judul berfungsi menggambarkan fenomena yang dibahas secara ringkas. Pemilihan kata sebaiknya padat, sederhana, informatif dan langsung ke inti persoalan karena judul yang terlalu panjang justru mengaburkan fokus tulisan.
Ditempatkan pada paragraf pembuka, bagian ini memuat gambaran awal mengenai peristiwa yang akan dibahas. Penulis memperkenalkan topik, memberikan definisi singkat, hingga dampak umum dari fenomena.
Pada bagian inti pembahasan ini, penulis menjelaskan proses terjadinya peristiwa secara bertahap dan kronologis. Setiap tahapan diuraikan secara logis agar mudah diikuti, serta dilengkapi dengan pembahasan mengenai dampak yang muncul akibat peristiwa tersebut.
Interpretasi merupakan bagian berisi pandangan atau simpulan penulis terhadap isu berdasarkan fakta yang telah dijelaskan. Perspektif disampaikan secara objektif dan tidak menyimpang dari data karena berfungsi mempertegas pemahaman pembaca, sebelum akhirnya ditutup dengan kesimpulan singkat dan jelas.
Selain struktur, teks eksplanasi juga dibangun dengan unsur kebahasaan yang menjadi ciri khasnya dalam membantu memperjelas hubungan antargagasan. Adapun kaidah kebahasaannya adalah sebagai berikut:
Kata hubung dalam tulisan eksplanatif digunakan untuk menyatukan klausa agar alur penjelasan terasa logis. Penggunaan konjungsi juga berguna untuk mempertegas relasi sebab-akibat maupun urutan peristiwa.
a. Konjungsi Kausalitas
Salah satu jenis kata hubung yang sering dipakai dalam tulisan ini adalah konjungsi kausalitas untuk menjelaskan hubungan sebab dan akibat. Contohnya antara lain karena, akibatnya, dan oleh sebab itu.
Contohnya: Banjir terjadi karena curah hujan tinggi dalam waktu lama.
b. Konjungsi Kronologis
Sementara itu, konjungsi kronologis digunakan untuk menunjukkan urutan waktu. Kata hubung seperti kemudian, setelah itu, atau pada akhirnya sering dipakai dalam jenis karangan ini.
Contohnya: Setelah magma naik ke permukaan, gunung api tersebut akhirnya meletus.
Dalam teks eksplanatif, pronomina penunjuk berfungsi untuk menggantikan penyebutan objek tertentu. Kata seperti ini, itu, dan tersebut sering digunakan untuk menghindari pengulangan.
Contoh: Fenomena itu menimbulkan dampak besar bagi masyarakat sekitar.
Kata pasif ditandai dengan imbuhan di- atau ter- . Penggunaan bentuk ini membantu menjaga objektivitas tulisan. Contoh: Wilayah tersebut terdampak banjir sejak dini hari.
Kata denotatif memiliki makna lugas dan sesuai kenyataan. Pilihan diksi ini penting guna membuat penjelasan bersifat objektif dan faktual.
Adapun istilah teknis merujuk pada kosakata khusus dalam bidang tertentu. Penggunaan istilah ini dilakukan guna membantu memperjelas konteks pembahasan.
Contoh: dalam topik kebakaran hutan, istilah hotspot digunakan untuk menunjukkan titik awal api.
Agar lebih memahami cara penyusunan tulisan ini, simak contoh teks eksplanasi singkat berikut ini:
Kebakaran hutan merupakan peristiwa terbakarnya kawasan hutan dalam skala luas sehingga menyebabkan kerusakan sebagian hingga seluruh ekosistem di dalamnya. Peristiwa ini juga menimbulkan dampak lanjutan berupa pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Peristiwa kebakaran hutan dapat dipicu oleh faktor manusia maupun alam. Aktivitas manusia seperti membuang puntung rokok sembarangan, membuka lahan dengan cara membakar, serta meninggalkan api unggun tanpa dipadamkan sering menjadi penyebab utama.
Selain itu, musim kemarau berkepanjangan membuat kondisi hutan semakin kering dan mudah terbakar. Gesekan antar ranting atau dedaunan kering pun dapat memicu percikan api yang kemudian menyebar dengan cepat.
Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peran penting bagi kehidupan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk berakal seharusnya turut berperan aktif dalam upaya pelestariannya. Tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan memastikan api unggun padam sebelum meninggalkan kawasan hutan dapat membantu mencegah terjadinya kebakaran.
Berikut adalah teks eksplanasi tentang fenomena alam gerhana bulan:
Gerhana bulan adalah salah satu fenomena alam yang tidak terjadi secara rutin setiap hari. Peristiwa ini berkaitan dengan posisi relatif bulan, bumi, dan matahari, sehingga kemunculannya mengikuti pola pergerakan ketiga benda langit tersebut.
Fenomena ini terjadi akibat kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika. Pada saat bidang orbit bulan berpotongan dengan bidang ekliptika, terbentuk dua titik perpotongan yang dikenal sebagai node. Gerhana bulan terjadi ketika bulan berada tepat di salah satu titik tersebut.
Dalam kondisi tertentu, permukaan bulan masih tampak saat gerhana berlangsung. Hal ini disebabkan oleh pembelokan cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi dan tetap mencapai permukaan bulan.
Cahaya yang dibelokkan tersebut memiliki spektrum kemerahan. Akibatnya, bulan tampak lebih gelap dengan warna merah tua, jingga, atau kecokelatan selama gerhana berlangsung.
Berbeda dengan gerhana matahari, peristiwa ini aman diamati secara langsung tanpa alat bantu. Bagi umat Muslim, gerhana bulan juga menjadi waktu dianjurkannya pelaksanaan salat sunnah gerhana.
Gerhana terjadi ketika bayangan bumi menutupi sebagian atau seluruh permukaan bulan. Kondisi ini berlangsung saat bumi berada di antara matahari dan bulan dalam satu garis lurus.
Posisi tersebut menyebabkan cahaya matahari terhalang sehingga tidak dapat mencapai bulan secara langsung. Bayangan bumi pun menutupi bulan dan menciptakan kesan seolah-olah bulan tertutup oleh bayangan gelap yang besar.