Apa itu Majas Metafora? Pengertian dan 50+ Contoh Kalimatnya
Author   Raden Putri
Majas metafora adalah salah satu jenis gaya bahasa yang sering ditemui dalam karya sastra, seperti puisi, maupun pada tulisan sehari-hari. Gaya ini dipakai untuk memperindah bahasa dan memperdalam makna dengan membandingkan dua hal melalui cara yang unik dan berbeda.
Membuat kalimat menjadi lebih hidup, majas ini kerap menjadi pilihan penulis untuk mengekspresikan perasaan atau gagasannya secara halus dan tetap kuat. Lantas, sebenarnya apa itu majas metafora? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Mengenal Majas Metafora: Gaya Bahasa Perbandingan Langsung
Majas metafora merupakan bentuk gaya bahasa yang membandingkan dua hal berbeda secara langsung untuk menggambarkan suatu ide, objek, gagasan, atau perasaan dengan sudut pandang baru. Perbandingan ini memanfaatkan persamaan karakteristik tertentu, sehingga maknanya menjadi lebih kuat dan ekspresif.
Berdasarkan Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI), metafora diartikan sebagai penggunaan kata atau frasa yang maknanya tidak bersifat harfiah, melainkan kiasan berdasarkan persamaan sifat antara dua hal. Pendekatan ini selain berfungsi sebagai alat komunikasi, juga menjadi sarana membangun imajinasi.
Alih-alih menjelaskan sesuatu secara literal, metafora menghubungkannya dengan objek lain yang memiliki karakter serupa. Hal ini membantu pembaca memahami konsep atau gagasan secara lebih mendalam melalui cara berbeda.
Ciri-Ciri Majas Metafora
Metafora ini memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dengan jenis majas lain. Adapun ciri-ciri utamanya adalah sebagai berikut:
1. Perbandingan dua unsur berbeda
Gaya bahasa ini menyandingkan dua hal yang tidak sama, tetapi memiliki kesamaan tertentu. Kesamaan tersebut bisa berupa sifat, karakter, suasana, maupun emosi.
2. Ruang lingkup objek yang luas
Dalam hal ini, unsur yang dibandingkan dapat berupa manusia, benda, kondisi, atau aktivitas tertentu. Perbandingan ini bertujuan memperjelas makna melalui gambaran yang lebih kuat, contohnya seseorang pekerja keras diibaratkan sebagai “pejuang tangguh”.
3. Tanpa kata penghubung eksplisit
Gaya bahasa ini umumnya tidak memakai konjungsi perbandingan. Perbandingan disampaikan secara langsung tanpa penanda seperti penggunaan kata penghubung.
4. Menggunakan ungkapan kiasan
Makna yang muncul dalam kalimatnya bersifat simbolik dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Oleh karena itu, pembaca perlu memahami konteks untuk menangkap pesan yang dimaksud. Kata kiasan itu di antaranya adalah “seperti”, “bagaikan”, “bak”, atau “laksana”.
Perbedaan Metafora dengan Majas Simile
Perbedaan umum antara majas metafora dan simile adalah pada penggunaan kata hubung pembanding. Metafora menyamakan dua hal secara langsung sehingga maknanya terasa padat dan tegas untuk memperkuat karakter atau ide dalam pernyataan singkat.
Sedangkan, simile membandingkan dua hal dengan bantuan kata pembanding seperti kata seperti, bagai, atau laksana. Bentuk ini lebih eksplisit sehingga maknanya lebih mudah dikenali oleh pembaca.
Selain itu, majas metafora dan personifikasi juga berbeda. Gaya bahasa personifikasi memberikan sifat atau perilaku manusia pada benda mati atau konsep abstrak, dengan tujuan membuat gambaran terasa lebih hidup dan emosional.
Contoh:
Metafora: Dia adalah bintang kelas.
Simile: Dia bersinar seperti bintang di kelas.
Personifikasi: Angin malam berbisik di antara pepohonan.
Fungsi Penggunaan Metafora dalam Karya Sastra
Penggunaan gaya bahasa ini memberikan kedalaman makna dan memperkaya ekspresi dalam sebuah tulisan. Berikut beberapa fungsinya dalam karya sastra:
1. Memperkuat imaji visual
Metafora membantu pembaca membentuk gambaran mental yang jelas dan kuat. Ungkapan seperti hutan beton mampu menghadirkan citra kota besar secara lebih nyata.
2. Menyalurkan emosi secara efektif
Perasaan penulis dapat disampaikan dengan lebih menyentuh melalui perbandingan simbolik. Ekspresi emosi pun terasa lebih dalam dibandingkan deskripsi langsung.
3. Menyederhanakan konsep abstrak
Ide yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami pembaca lewat perbandingan dengan hal yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memudahkan pembaca menangkap pesan utama.
4. Memberikan sudut pandang baru
Metafora memungkinkan penulis menghadirkan cara pandang yang segar terhadap suatu hal. Pembaca diajak melihat objek atau gagasan dari perspektif yang berbeda.
Daftar 50+ Contoh Majas Metafora dan Maknanya (Sehari-hari & Puisi)
Contoh majas metafora dapat ditemui dalam berbagai bentuk karya sastra maupun tulisan sehari-hari. Untuk lebih memahami gaya bahasa ini, simak penggunaan majas metafora dan contohnya berikut:
Kegagalan adalah guru yang terbaik. (Kegagalan mengajarkan kita banyak hal)
Dia adalah pelabuhan terakhir. (Seseorang yang menjadi tempat kita kembali ketika merasa lelah)
Ia hadir layaknya bintang jatuh yang memesona. (Seseorang yang singgah sebentar namun meninggalkan kesan mendalam)
Kebohongan menyerupai jaring yang makin mengikat. (Sekali berbohong, masalah semakin sulit dilepaskan)
Kebenaran tampil sebagai pedang bermata tajam. (Kejujuran bisa menyakitkan, tetapi membebaskan)
Dia adalah oasis di tengah gurun. (Seseorang mampu memberikan ketenangan dan harapan)
Kehidupan digambarkan sebagai buku bertinta takdir. (Hidup berjalan mengikuti garis yang tak selalu bisa diubah)
Ia menjelma pelangi yang memperindah hari. (Seseorang mampu membawa keceriaan)
Sosok itu memancar seperti matahari di hatiku. (Orang yang memberi kehangatan dan kasih)
Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia. (Hutan berperan penting dalam penyediaan oksigen)
Hidup sering terasa seperti panggung sandiwara. (Manusia menjalani banyak peran dalam kehidupan)
Hatiku berubah menjadi kebun penuh duri. (Perasaan sedang terluka dan sedih)
Mata kerap berperan sebagai jendela jiwa. (Perasaan seseorang dapat tercermin dari tatapan)
Ia hadir sebagai badai dalam batinku. (Seseorang yang membawa perubahan besar)
Pikirannya terbentang laksana samudra luas. (Cara berpikirnya sangat dalam dan luas)
Ia hanya singgah sebagai bintang jatuh dalam hidupku. (Datang sebentar namun membekas)
Kecemburuan menyerupai api yang membakar diri sendiri. (Rasa cemburu dapat merugikan diri)
Hatiku menjelma lautan dengan gelombang tak tenang. (Perasaan sedang kacau)
Dirinya menjadi matahari dalam langkah hidupku. (Sumber semangat dan kebahagiaan)
Ucapannya terasa seperti pisau menusuk dada. (Kata-katanya sangat menyakitkan)
Mimpi itu tampak seperti pelangi penuh harapan. (Cita-cita yang indah)
Ia bersinar sebagai bintang paling terang. (Seseorang yang menonjol dan berbakat)
Kehidupan digambarkan sebagai perjalanan panjang. (Hidup penuh proses dan perubahan)
Dirinya ibarat buku yang belum tamat dibaca. (Seseorang penuh misteri)
Cinta menyerupai bunga cantik yang mudah layu. (Perasaan ini perlu dijaga)
Pikirannya adalah labirin rumit. (Banyak kebingungan dan pertimbangan)
Pengetahuan berperan sebagai harta paling berharga. (Ilmu membuka banyak peluang)
Ketakutan hadir sebagai belenggu langkah. (Rasa takut menghambat kemajuan)
Cemburu berubah menjadi api yang membakar hati. (Perasaan ini merusak hubungan)
Kebaikan memancarkan cahaya bagi dunia. (Perilaku baik membawa dampak positif)
Ia datang sebagai pelangi selepas hujan. (Kebahagiaan setelah kesedihan)
Hidup sering tampak sebagai teka-teki besar. (Banyak hal tak terduga)
Buah-buahan bagaikan permata dari alam. (Penuh manfaat bagi kesehatan)
Musik hadir sebagai bahasa tanpa batas. (Dapat dinikmati semua kalangan)
Lukisan menjadi cermin batin sang seniman. (Ekspresi perasaan dan pikiran)
Buku menjelma sahabat setia. (Memberi ilmu dan hiburan)
Olahraga berfungsi sebagai obat alami. (Menjaga kesehatan fisik dan mental)
Keberuntungan kerap hadir sebagai senyum Dewi Fortuna. (Nasib baik sulit diprediksi)
Kematian dipandang sebagai ujung perjalanan. (Bagian alami dari kehidupan)
Hidup tetap menjadi misteri tak terungkap. (Penuh ketidakpastian)
Cinta pertama meninggalkan luka terdalam. (Pengalaman emosional yang membekas)
Kehidupan layak disebut hadiah berharga. (Anugerah yang patut disyukuri)
Pengetahuan berfungsi sebagai senjata ampuh. (Ilmu membantu meraih tujuan)
Ia datang seperti badai penghancur. (Membawa dampak buruk)
Hidup menyerupai samudra luas dan dalam. (Penuh keajaiban dan misteri)
Laut tampak seperti cermin langit biru. (Pantulan warna langit)
Angin terasa sebagai pelukan lembut alam. (Memberi ketenangan)
Sungai berperan sebagai urat nadi kehidupan. (Sangat vital bagi makhluk hidup)
Hujan kerap disebut air mata langit. (Simbol kesedihan)
Uang sering dianggap akar berbagai konflik. (Pemicu masalah)
Waktu mengalir seperti butiran pasir. (Tak bisa diulang)
Kebohongan berubah menjadi racun berbahaya. (Merusak kepercayaan)
Hatiku berkembang menjadi taman penuh bunga. (Perasaan bahagia dan penuh kasih)
Dirinya menjadi kunci pembuka hatiku. (Orang yang sangat berarti)
Kegagalan sering berfungsi sebagai batu loncatan. (Jalan menuju kesuksesan)
Kesabaran berperan sebagai kunci impian. (Diperlukan untuk mencapai tujuan)
Ia hadir sebagai pelabuhan paling tenang. (Memberi rasa aman)
Dirinya menjadi kompas dalam hidupku. (Panutan dan penunjuk arah)
Waktu kerap disamakan dengan uang. (Sangat berharga)
Pekerjaan menjadi roti kehidupan sehari-hari. (Sumber pemenuhan kebutuhan)
Terkait
Bagikan
Kelas Terlaris Tempo Institute
Tingkatkan skill menulis, jurnalistik, dan skill profesional lainnya lewat kelas terbaik pilihan kami.
Promo Terbatas. Diskon 20%
untuk Kelas Mandiri pilihan. Gunakan kode voucher: HEMATBELAJAR