Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan melakukan tawar-menawar untuk mencari kesepakatan bersama. Di sinilah teks negosiasi berperan sebagai sarana komunikasi untuk menyatukan perbedaan kepentingan tersebut secara bijak.
Melalui teks ini, setiap pihak dapat menyampaikan keinginan sekaligus mencari jalan tengah yang saling menguntungkan. Namun, apa sebenarnya pengertian teks negosiasi tersebut? Untuk informasi selengkapnya, simak rangkumannya berikut ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), negosiasi adalah proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak lain. Kegiatan ini juga menjadi salah satu proses penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak bersengketa.
Sementara itu, menurut Priyatni dan Harsiati, teks negosiasi adalah tulisan yang memaparkan proses tawar-menawar melalui perundingan antara dua pihak. Tujuan utamanya adalah mencapai kesepakatan bersama antara pihak pertama dan kedua yang terlibat dalam proses tersebut.
Secara umum, teks ini menjadi bentuk interaksi sosial yang berfungsi sebagai media penyelesaian masalah akibat perbedaan kepentingan. Masing-masing pihak berupaya berkomunikasi dan mencari solusi terbaik tanpa merugikan satu sama lain.
Dengan begitu, tujuan teks negosiasi adalah untuk mencapai mencapai kesepakatan bersama atas perbedaan kepentingan. Selain itu, teks ini juga berfungsi menjaga hubungan baik antar pihak melalui komunikasi yang efektif.
Terdapat sejumlah karakteristik yang membedakan tulisan ini dengan jenis teks lain. Ciri-ciri teks negosiasi adalah sebagai berikut:
Adapun jenis-jenis teks negosiasi mencakup jual beli, kerja sama bisnis, penyelesaian konflik, hingga perjanjian kerja. Setiap jenis disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan pihak yang terlibat.

Secara umum, jenis teks ini tersusun atas beberapa bagian utama yang saling berkaitan. Setiap struktur teks negosiasi memiliki fungsi penting dalam mengarahkan pembaca menuju kesepakatan akhir. Bagian-bagian tersebut adalah:
Bagian ini berisi pembuka percakapan untuk memperkenalkan topik atau masalah yang akan dibahas. Selain itu, bagian ini juga biasanya diawali dengan salam atau pengantar untuk membangun suasana komunikasi.
Pengajuan memuat pernyataan atau permintaan dari pihak pertama kepada pihak kedua. Dalam tahap ini, keinginan atau tuntutan disampaikan secara jelas agar dapat dipahami pihak lain dengan baik.
Setelah tuntutan diajukan, kedua pihak mulai melakukan penawaran atau penolakan terhadap permintaan tersebut. Proses ini bertujuan untuk mencari titik temu yang dapat diterima bersama.
Kesepakatan merupakan bagian akhir yang menunjukkan hasil dari proses tawar-menawar. Di tahap ini, pihak-pihak yang terlibat menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap keputusan yang dibahas.
Ini adalah struktur tambahan yang bisa muncul apabila kesepakatan berujung pada transaksi. Setelah harga atau syarat disetujui, pihak pembeli akan melakukan pembelian sesuai hasil perundingan.
Agar tujuan perundingan bisa dicapai, penyusunan teks harus memerhatikan aspek kebahasaan agar proses komunikasi berjalan efektif. Adapun unsur kebahasaan teks negosiasi adalah sebagai berikut:
Ini adalah jenis kalimat yang digunakan untuk membujuk atau meyakinkan pihak lain agar melakukan tindakan sesuai ajakan penulis. Unsur ini penting guna membantu menarik perhatian dan membuka peluang tercapainya kesepakatan.
Kalimat deklaratif berfungsi menyampaikan pernyataan atau informasi secara jelas. Bentuk ini memudahkan pihak lain dalam memahami maksud yang disampaikan.
Pemilihan bahasa yang santun merupakan unsur penting agar komunikasi terasa lebih nyaman dan profesional. Sikap ini juga membantu menjaga hubungan baik antar pihak terlibat sehingga suasana komunikasi tetap kondusif dan saling menghargai.
Dalam proses tawar-menawar, sebaiknya gunakan kalimat singkat, padat, dan mudah dipahami. Meski ringkas, pastikan informasi tetap tersampaikan secara utuh dan jelas.
Unsur kebahasaan selanjutnya adalah penggunaan konjungsi atau kata hubung yang berperan sebagai penghubung antarkata, frasa, atau kalimat. Kehadirannya membantu alur pembahasan menjadi lebih runtut dan logis.
Selain itu, karena teks ini umumnya berbentuk dialog, penggunaan kalimat langsung pun menjadi unsur penting. Bentuk ini memperjelas siapa pihak yang berbicara dan apa yang disampaikan.
Selanjutnya, kalimat kesepakatan digunakan untuk menunjukkan hasil akhir dari proses perundingan. Unsur ini menegaskan apakah penawaran diterima atau ditolak oleh pihak terkait.
Berikut adalah contoh teks negosiasi sederhana yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ardi tidak langsung kembali ke rumah seperti teman-temannya. Ia memilih memesan ojek di pangkalan dekat sekolah untuk menuju tempat bimbingan belajar hingga waktu magrib.
Ardi: Permisi, Bang. Bisa antar saya ke tempat les?
Tukang Ojek: Bisa, Dek. Mau ke mana?
Ardi: Ke daerah Cadika. Ongkosnya berapa dari sini?
Tukang Ojek: Dua puluh ribu rupiah, ya.|
Ardi: Wah, mahal juga, Bang. Biasanya saya bayar dua belas ribu.
Tukang Ojek: Soalnya jaraknya lumayan jauh dan harga bensin lagi naik.
Ardi: Uang saya terbatas, Bang. Kalau lima belas ribu bisa?
Tukang Ojek: Gimana kalau delapan belas ribu saja?
Ardi: Baiklah, saya setuju.
Tukang Ojek: Sip, ayo berangkat!
Proses perundingan yang tidak selalu berujung pada kesepakatan. Meski begitu, komunikasi tetap harus berlangsung sopan dan saling menghargai. Berikut contohnya:
Nisa: Bu, aku mau minta izin menginap di rumah Alya akhir pekan ini.
Ibu: Ada keperluan apa sampai ingin menginap?
Nisa: Tidak ada acara khusus, Bu. Kami hanya ingin berkumpul saja.
Ibu: Siapa saja yang akan ikut?
Nisa: Aku, Rani, Lia, dan Alya.
Ibu: Sepertinya lebih baik rencana itu ditunda dulu.
Nisa: Kenapa begitu, Bu?
Ibu: Ibu dengar ayah Alya baru selesai menjalani operasi dan masih perlu banyak istirahat. Kalau rumahnya ramai, nanti bisa mengganggu.
Nisa: Tapi Alya bilang tidak masalah, Bu.
Ibu: Meski begitu, ibu rasa sebaiknya lain kali saja. Akhir pekan ini kamu tetap di rumah, ya.
Nisa: Jadi benar-benar tidak boleh, Bu?
Ibu: Untuk sekarang belum boleh. Mungkin minggu depan bisa dipertimbangkan lagi.
Nisa: Baik, Bu. Aku mengerti.