Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa suatu kalimat bisa terasa begitu kuat dan menggugah, sedangkan kalimat lain terdengar biasa saja? Jawabannya sering terletak pada diksi, yakni kecermatan pemilihan istilah untuk menyampaikan gagasan.
Tanpa pilihan kata yang tepat, pesan mudah melenceng dan membuat maknanya tak lagi sesuai harapan. Namun, sebenarnya apa itu diksi? Artikel berikut ini akan mengulas lebih dalam mengenai pengertian diksi, fungsi, syarat, hingga contoh penggunaannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya. Dengan pemilihan istilah ini, penulis berusaha menyampaikan gagasannya sekaligus menghadirkan efek khusus bagi pembaca.
Secara umum, yang dimaksud dengan diksi merupakan pemilihan suatu istilah untuk menentukan ungkapan paling sesuai dalam menyampaikan ide tertentu. Berikut beberapa pengertian diksi dalam puisi menurut para ahli.
Keraf membagi pengertian istilah ini ke dalam dua aspek. Pertama, berkaitan dengan pemilihan dan pemahaman makna kosakata guna menyampaikan gagasan secara tepat serta sesuai situasi.
Kedua, menyangkut kemampuan membedakan nuansa makna agar ide tersampaikan secara akurat kepada pembaca maupun pendengar. Ia juga menekankan pentingnya menyesuaikan bentuk penggunaan diksi dengan nilai dan latar sosial audiens, sehingga pesan dapat diterima dengan baik.
Sementara itu, Mansurudin memaknai konsep diksi puisi adalah sebagai pilihan kata. Ketepatan dan kecermatan dalam memilih istilah ini dinilai mampu memberi bobot tertentu pada sebuah ungkapan serta mencegah terjadinya salah tafsir antara penulis dan pembaca.
Adapun Enre mendefinisikannya sebagai penggunaan kosakata yang tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan dalam susunan kalimat tertentu. Artinya, pemilihan istilah tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga menjaga keutuhan gagasan dalam struktur bahasa.
Penggunaan diksi memiliki peran besar dalam membentuk kualitas sebuah tulisan, karena menentukan sejauh mana pesan dapat diterima pembaca dengan baik. Adapun fungsi dari pemilihan kata dalam puisi, karya sastra, maupun karya jurnalistik lain adalah sebagai berikut:
Pilihan kosakata yang tepat memudahkan pembaca dalam memahami inti pesan tanpa kebingungan atau tafsir ganda. Ketika ungkapan disusun secara selaras, maka makna menjadi lebih jelas dan komunikasi berjalan lebih efektif.
Ketelitian dalam memilih istilah membantu menyampaikan ide secara lugas dan efisien. Sebaliknya, penggunaan ungkapan yang kurang tepat justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta dampak yang tidak diinginkan.
Pilihan kata dalam puisi disebut juga diksi, yakni medium untuk menuangkan perasaan dan sudut pandang penulis, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Ungkapan yang selaras mampu membangun imajinasi pembaca dan menghadirkan suasana tertentu dalam karya.
Kosakata yang dipilih secara kreatif dapat menghadirkan kesan menyenangkan bagi pembaca. Oleh karena itu, unsur estetika dalam penyusunan kalimat akan membuat karya terasa lebih hidup dan menghibur.

Penggunaan pemilihan istilah bukan sekadar memilih kata secara acak, melainkan mempertimbangkan kesesuaian makna dan konteks tulisan. Ketelitian pun menjadi kunci utama agar gagasan tersampaikan secara tepat.
Menurut Gorys Keraf, berikut beberapa syarat yang perlu diperhatikan.
Saat akan memilih diksi, penulis harus mampu membedakan makna lugas (denotatif) dan makna bernilai rasa (konotatif) agar pesan tidak melenceng dari tujuan awal. Penggunaan istilah yang keliru dapat mengubah kesan dan memengaruhi cara pembaca menafsirkan isi tulisan.
Istilah yang tampak serupa belum tentu memiliki nuansa identik dalam semua konteks. Oleh karena itu, pemilihan padanan makna harus disesuaikan dengan situasi dan suasana tulisan agar kalimat tetap terasa alami dan tidak menimbulkan ambiguitas.
Beberapa kosakata memiliki ejaan sama tetapi arti berbeda, bahkan ada pula yang pelafalannya berlainan. Oleh sebab itu, ketidaktelitian dalam memahami perbedaan tersebut dapat menyebabkan kekeliruan makna pada tulisan.
Ungkapan idiomatik memiliki arti khusus yang tidak selalu sama dengan makna harfiahnya. Karena itu, penting untuk memahami bentuk kalimat semacam ini agar penggunaannya tidak menyimpang dari maksud sebenarnya.
Kosakata umum memiliki cakupan makna luas, sedangkan istilah khusus bersifat lebih spesifik. Penyesuaian keduanya membantu penulis menyampaikan informasi secara lebih detail dan terarah.
Pemilihan diksi perlu disesuaikan dengan situasi, tujuan, serta sasaran pembaca. Dengan konsistensi dalam penggunaan istilahnya, tulisan akan terasa padu dan lebih profesional.
Pemilihan kata dapat dibedakan berdasarkan makna maupun konteks penggunaannya. Pemahaman terhadap jenis-jenis ini penting untuk membantu penulis dalam menentukan bentuk paling sesuai dengan kebutuhannya.
Merupakan arti lugas yang sesuai dengan konsep aslinya tanpa tambahan nilai rasa maupun perubahan makna. Contohnya:
Mengandung arti tambahan berupa nilai emosional atau kiasan dari suatu kalimat. Adapun contoh diksi dalam puisi dengan makna konotatif adalah sebagai berikut:
Aku hanyut di lautan rindu,
ombaknya memukul dinding dadaku.
Makna konotatif:
Lautan rindu menggambarkan kerinduan yang sangat dalam.
Ombak memukul dada menyimbolkan gejolak emosi.
Sebuah makna baru muncul dari hubungan antara dua buah kata dalam satu kalimat. Contohnya, kata “rumah nenek” mengandung pengertian rumah tersebut milik nenek.
Sementara itu, dalam konteks non linguistik, makna dipengaruhi situasi sosial atau realitas di luar bahasa. Misalnya, pada ungkapan “buaya darat” dalam percakapan sehari-hari mengacu pada pria yang gemar mempermainkan perempuan, bukan hewan reptil.
a. Sinonim: Padanan makna dengan bentuk berbeda, seperti cerdas dan pandai.
b. Antonim: Pasangan makna berlawanan, seperti tinggi dan rendah.
c. Homofon: Pelafalan sama tetapi ejaan dan arti berbeda, contohnya bank (lembaga keuangan) dan bang (sapaan).
d. Homograf: Ejaan sama namun makna dan pelafalan berbeda, seperti apel (buah) dan apel (upacara).
e. Polisemi dan Homonimi: Polisemi terjadi ketika satu bentuk memiliki beberapa arti yang masih saling berkaitan, misalnya kepala pada kepala sekolah, kepala surat, dan kepala keluarga. Sementara homonimi merujuk pada bentuk sama dengan arti tidak berhubungan, seperti bulan (penanggalan) dan Bulan (satelit bumi).