Cara membuat essay yang baik dan profesional perlu dipahami agar bisa menyampaikan gagasan secara jelas dan meyakinkan. Dengan pemahaman penulisan yang tepat, penulis bisa menyusun argumen secara runtut dan mudah dipahami pembaca.
Karya tulis ini banyak digunakan dalam berbagai konteks, terutama akademis dan profesional. Lantas, bagaimana sebenarnya cara membuat essay yang benar? Simak rangkuman informasi selengkapnya berikut ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), essay atau esai adalah sebuah bentuk tulisan prosa yang menyajikan pandangan singkat penulis terhadap suatu isu dari sudut pandang pribadi. Tulisan ini memuat informasi, gagasan, argumentasi, sekaligus ekspresi pemikiran mengenai suatu topik.
Esai singkat tergolong dalam karya tulis yang menggabungkan fakta dan opini, sehingga bersifat analitis dan subjektif. Sudut pandang penulis pun menjadi elemen utama dengan pendekatan spekulatif dan interpretatif dalam membahas persoalan.
Selain itu, penulis juga memiliki kebebasan untuk memilih topik pembahasan tanpa terikat pada satu bidang tertentu. Berbagai fenomena, mulai dari isu lingkungan, perubahan sosial, hingga tren budaya populer, dapat dieksplorasi melalui perspektif individual.
Dalam praktiknya, bentuk tulisan ini bisa berisi narasi berupa kritik, argumen, refleksi, maupun pengamatan atas kehidupan sehari-hari. Dari perspektif jurnalistik, esai dipahami sebagai tulisan opini seseorang terhadap suatu persoalan dengan penekanan pada sudut pandang personal.
Esai boleh menggunakan kata “saya”, terutama jika konteks penulisannya bersifat personal, reflektif, atau naratif. Penggunaan kata tersebut sangat wajar saat membuat essay tentang diri sendiri, selama tetap relevan dengan topik dan disampaikan secara jelas serta bertanggung jawab.
Umumnya, penulisan teks esai diawali dengan penyajian fakta atau konteks yang relevan sebelum penulis menyampaikan pendapat pribadi. Penyampaian gagasan ini dilakukan menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh pembaca. Adapun strukturnya adalah sebagai berikut:
Pendahuluan berfungsi sebagai pintu masuk bagi pembaca untuk memahami topik yang akan dibahas. Pada bagian ini, penulis dapat menyampaikan gambaran umum atau sudut pandang awal terkait isu yang diangkat agar pembahasan lebih terarah dan terstruktur.
Ini merupakan inti tulisan yang menjelaskan topik secara mendalam dan sistematis. Penulis umumnya akan menyusun argumen berdasarkan kerangka berpikir yang logis dan runtut.
Pada tahap ini, gagasan utama dikembangkan melalui penjelasan rinci agar pembaca memahami sudut pandang penulis. Pendapat pribadi diperkuat dengan data, fakta, atau pandangan ahli agar argumen menjadi lebih meyakinkan.
Berisi rangkuman ide-ide penting yang telah dibahas sebelumnya, dan berfungsi membantu pembaca menangkap inti pemikiran penulis secara utuh. Kesimpulan disampaikan secara singkat, padat, dan tidak melebar ke topik lain.

Essay ilmiah yang baik akan dilihat dari ketajaman analisis, pemaparan, refleksi, dan argumentasi kuat. Meski begitu, karya itu harus ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
Agar menghasilkan tulisan yang baik, perlu diketahui langkah-langkah dalam pembuatannya. Berikut adalah tahapan dalam membuat esai dari awal hingga akhir:
Langkah awal dimulai dengan memilih topik sesuai tujuan penulisan. Pemilihan topik memudahkan penulis dalam mengembangkan gagasan secara fokus.
Tema sebaiknya diambil dari isu yang dipahami atau diminati oleh penulis. Dengan begitu, proses penulisan dapat berjalan lebih lancar dan argumentasi terasa lebih kuat.
Kerangka berfungsi memetakan ide agar pembahasan tersusun rapi dan tidak melebar ke topik lain. Melalui outline, penulis dapat menentukan batasan topik sekaligus arah pengembangan tulisan.
Pengembangan dilakukan dengan mengikuti susunan struktur, yakni pendahuluan, isi, dan penutup. Setiap paragraf perlu memiliki kalimat utama yang didukung argumen, contoh, atau data relevan agar argumentasi lebih kuat dan meyakinkan.
Dalam membuat essay, penulis juga perlu melakukan penyuntingan untuk memastikan penggunaan bahasa, ejaan, dan struktur kalimat sudah tepat. Tahap ini penting untuk meningkatkan keterbacaan dan kualitas keseluruhan tulisan.
Revisi atau perbaikan dilakukan untuk mengevaluasi kejelasan argumen dan relevansi isi karya tulis. Penulis juga perlu memastikan bahwa jumlah kata dan dukungan referensi sudah sesuai ketentuan.
Judul adalah salah satu elemen penting dalam setiap jenis karya tulis. Keberadaannya membantu pembaca untuk menentukan akan membaca tulisan tersebut atau tidak.
Karena itu, judul harus dibuat menarik agar mendapatkan perhatian dan menarik minat pembaca. Berikut beberapa tips untuk membuat judul essay:
Judul yang ideal harus mampu mewakili gagasan utama dalam tulisan. Untuk itu, penulis perlu memahami inti pembahasan sebelum menentukan judul.
Pemilihan kata kunci dari topik utama juga dapat membantu memperjelas fokus tulisan. Dengan cara ini, judul tetap ringkas namun bermakna.
Pemilihan kata berperan besar dalam menarik perhatian pembaca. Diksi yang tepat membuat judul terdengar lebih kuat dan komunikatif.
Kekayaan kosakata dapat diasah melalui kebiasaan membaca berbagai jenis tulisan. Semakin luas perbendaharaan kata, semakin fleksibel penulis dalam merangkai judul menarik.
Judul yang efektif mampu memancing rasa ingin tahu pembaca. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan bentuk pertanyaan atau pernyataan provokatif.
Teknik ini mendorong pembaca untuk mencari jawaban melalui isi tulisan. Namun, penting untuk diperhatikan agar judul tersebut tetap relevan dengan pembahasan utama.
Di sisi lain, judul singkat lebih mudah dibaca dan diingat. Penggunaan kata berlebihan justru berpotensi mengaburkan fokus tulisan.
Jika judul harus ditulis panjang, penulis perlu memilih kata secara selektif agar jumlah kata tidak melebihi batas wajar, sehingga bisa tetap efektif.
Judul sebaiknya disusun secara lugas tanpa kalimat bertele-tele. Kejelasan makna ini akan membantu pembaca untuk langsung memahami topik tulisan.
Hal ini karena judul yang membingungkan dapat menurunkan minat baca sejak awal. Karena itu, pastikan judul selaras dengan isi dan tujuan penulisan.

Untuk lebih memahami materi ini, simak contoh essay berikut ini:
Krisis Pembiayaan Pendidikan
Di level pendidikan tinggi, keluhan kian tak terjangkaunya uang kuliah terus disuarakan mahasiswa dan orangtua tiap tahun. Dukungan pemerintah yang mengecil karena keterbatasan kemampuan APBN membuat perguruan tinggi dituntut mandiri. Hal ini menuntun pada komersialisasi yang membuat biaya pendidikan kian melambung serta sulit dijangkau kelompok menengah ke bawah.
Kondisi ini memperlebar ketimpangan, membatasi mobilitas vertikal sosial-ekonomi masyarakat bawah. Dengan rasio penduduk berpendidikan S-2 dan S-3 terhadap populasi produktif 0,45 persen, sulit bagi kita bicara transformasi menuju Indonesia Emas. Upaya mengatasi ketertinggalan terus dilakukan, termasuk memperbanyak program beasiswa dan hibah, serta pengiriman mahasiswa belajar di dalam dan luar negeri. Namun, jumlahnya masih jauh dari mencukupi.
Tahun 2018, Presiden Jokowi mendorong perbankan lebih banyak lagi menyalurkan kredit pendidikan, termasuk menjajaki skema student loan, seperti diterapkan di AS. Namun, wacana student loan itu tak jelas perkembangannya. Yang muncul justru solusi pragmatis kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga pinjaman daring, yang kemudian memicu polemik dan aksi protes mahasiswa karena memberatkan dan tak etis, atau berpotensi memunculkan problem baru.
Penyaluran pinjaman pendidikan sebenarnya sudah dilakukan segelintir bank besar, tetapi masih terbatas. Keengganan terhadap skema student loan, selain karena belum ada payung hukum, juga ada kekhawatiran apa yang berlangsung di AS akan terjadi di Indonesia. Hal itu ialah tingginya gagal bayar atau kredit macet yang bisa mengancam perekonomian. Pemerintah pun dipaksa melakukan penghapusan, penangguhan, atau keringanan utang pendidikan bermasalah ratusan miliar dollar AS.
Kita tak tahu student loan—dengan pembayaran kembali baru dilakukan setelah mahasiswa lulus dan bekerja—pilihan paling tepat. Jika iya, kita perlu memastikan payung hukum yang kuat dan bagaimana implementasi serta mitigasi risikonya agar pengalaman buruk AS tak terjadi di Indonesia.
Sebanyak 44 juta lebih warga AS terjebak dalam pinjaman pendidikan senilai total 1,74 triliun dollar AS per September 2023. Sekitar 70 persen mahasiswa bergantung pada student loan, yang baru bisa mereka lunasi dalam puluhan tahun.
Pinjaman pendidikan bisa dikatakan tak memberatkan jika skemanya sederhana, syaratnya mudah, bunga rendah, dan tenor panjang. Swedia, Jerman, Finlandia, Norwegia, Denmark, dan Perancis adalah contoh negara yang mengenakan bunga rendah, bahkan nol persen, untuk utang pendidikan.
Pendidikan adalah public goods dan bagian penting dari investasi pembangunan masa depan. Perlu komitmen kuat pemangku kepentingan untuk mewujudkan pemerataan pendidikan yang berkeadilan. Termasuk komitmen anggaran yang cukup dan keberpihakan. Jangan sampai komersialisasi pendidikan memakan lebih banyak lagi korban anak bangsa.
Editor: Antonius Tomy Trinugroho
Batman
Oleh: Goenawan Mohamad
Batman tak pernah satu, maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak ”Batman Begins” (2005) sampai dengan ”The Dark Knight Rises” (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Bale memegang peran utama dalam ketiga-tiganya.
Tiap kali kita memang bisa mengidentifikasinya dari sebuah topeng kelelawar yang itu-itu juga. Tapi setiap kali ia dilahirkan kembali sebagai sebuah jawaban baru terhadap tantangan baru. Sebab selalu ada hubungan dengan hal-ihwal yang tak berulang, tak terduga—dengan ancaman penjahat besar The Joker atau Bane, dalam krisis Kota Gotham yang berbeda-beda.
Sebab itu Batman bisa bercerita tentang asal mula, tetapi asal mula dalam posisinya yang bisa diabaikan: wujud yang pertama tak menentukan sah atau tidaknya wujud yang kedua dan terakhir. Wujud yang kedua dan terakhir bukan cuma sebuah fotokopi dari yang pertama. Tak ada yang–sama yang jadi model. Yang ada adalah simulakra—yang masing-masing justru menegaskan yang–beda dan yang–banyak dari dan ke dalam dirinya, dan tiap aktualisasi punya harkat yang singularis, tak bisa dibandingkan. Mana yang ”asli” tak serta-merta mesti dihargai lebih tinggi.
Sebab kreativitas berbeda dari orisinalitas. Kreativitas berangkat ke masa depan. Orisinalitas mengacu ke masa lalu. Masa yang telah silam itu tentu saja baru ada setelah ditemukan kembali. Akan tetapi, arkeologi yang menggali dan menelaah petilasan tua, perlu dilihat sebagai bagian dari proses mengenali masa lalu yang tak mungkin dikenali. Pada titik ketika masa lalu mengelak, ketika kita tak merasa terkait dengan petilasan tua, ketika itulah kreativitas lahir.
Saya kira bukan kebetulan ketika dalam komik “Night on Earth” karya Warren Ellis dan John Cassaday (2003), Planetary, sebuah organisasi rahasia, menyebut diri archeologists of the impossible.
Para awalnya datang ke Kota Gotham, untuk mencari seorang anak yang bisa membuat kenyataan di sekitarnya berganti-ganti seperti ketika ia dengan remote control menukar saluran televisi. Kota Gotham pun berubah dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain, dan Batman, penyelamat kota itu, bergerak dalam pelbagai penjelmaannya. Ada Batman sang penuntut balas yang digambarkan Bob Kane; ada Batman yang muncul dari serial televisi tahun 1966, yang dibintangi oleh Adam West sebagai Batman yang lunak; ada juga Batman yang suram menakutkan dalam cerita bergambar Frank Miller. Semua itu terjadi di gang tempat ayah Bruce Wayne dibunuh penjahat—yang membuat si anak jadi pelawan laku kriminal.
Satu topeng, satu nama—sebuah sintesis dari variasi yang banyak itu. Namun, sintesis itu berbeda dengan penyatuan. Ia tak menghasilkan identitas yang satu dan pasti. Hal yang lebih penting lagi, sintesis itu tak meletakkan semua varian dalam sebuah norma yang baku. Tak dapat ditentukan mana yang terbaik, tepatnya: mana yang terbaik untuk selama-lamanya.
Sebab itu Kota Gotham dalam “Night on Earth” bisa jadi sebuah alegori. Ia bisa mengajarkan kepada kita tentang aneka perubahan yang tak bisa dielakkan dan sering tak terduga. Ia bisa mengasyikkan tapi sekaligus membingungkan. Ia paduan antara sesuatu yang “utuh” dan sesuatu yang kacau.
Dengan alegori itu tak bisa kita katakan, mengikuti Leibniz, bahwa inilah “dunia terbaik dari semua dunia yang mungkin”, le meilleur des mondes possibles. Bukan saja optimisme itu berlebihan. Voltaire pernah mencemoohnya dalam novelnya yang kocak, Candide, sebab di dunia ini kita tetap saja akan menghadapi bermacam-macam kejahatan dan bencana, 1.001 inkarnasi The Joker dengan segala mala yang diakibatkannya. Kesalahan Leibniz—yang hendak menunjukkan sifat Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih— justru telah memandang Tuhan sebagai kekuasaan yang tak murah hati: Tuhan yang hanya menganggap kehidupan kita sebagai yang terbaik dan dengan begitu dunia yang bukan dunia kita tak patut ada dan diakui. Kesalahan Leibniz juga karena ia terpaku kepada sebuah pengalaman yang seakan-akan tak akan berubah. Padahal, seperti Kota Gotham dalam “Night on Earth”, dunia mirip ribuan gambar yang berganti-ganti di layar dan berganti-ganti pula cara kita memandangnya.
Penyair Wallace Stevens menulis sebuah sajak, “Thirteen Ways of Looking at a Blackbird”. Salah satu bait dari yang 13 itu mengatakan,
But I know, too,
That the blackbird is involved
In what I know
Memandang seekor burung-hitam bukan hanya bisa dilakukan dengan lebih dari satu cara. Juga ada keterpautan antara yang kita pandang dan “yang aku ketahui”. “Yang aku ketahui” tak pernah ”aku ketahui semuanya”. Dengan kata lain, dunia—seperti halnya Kota Gotham—selamanya adalah dunia yang tak bisa seketika disimpulkan.
Tak berarti pengalaman adalah sebuah proses yang tak pernah tampak wujud dan ujungnya. Pengalaman bukanlah arus sungai yang tak punya tebing. Meskipun demikian, wujud, ujung, dan tebing itu juga tak terpisah dari “yang aku ketahui”. Dunia di luarku selamanya terlibat dengan tafsir yang aku bangun dari pengalamanku—tafsir yang tak akan bisa stabil sepanjang masa.
Walhasil, akhirnya selalu harus ada kesadaran akan batas tafsir. Akan selalu ada yang tak akan terungkap—dan bersama itu, akan selalu ada Gotham yang terancam kekacauan dan keambrukan. Itu sebabnya dalam “The Dark Knight Rises”, Inspektur Gordon tetap mau menjaga misteri Batman, biarpun dikabarkan Bruce Wayne sudah mati. Dengan demikian bahkan penjahat yang tecerdik sekalipun tak akan bisa mengklaim “aku tahu”.
Hormati Masa Tenang
Masa kampanye Pemilu 2024 telah berakhir. Saatnya memberikan kesempatan kepada rakyat untuk menimbang lebih dalam kandidat yang akan dipilih pada 14 Februari nanti.
Guna mewujudkan hal itu, sejumlah ketentuan telah dibuat sepanjang masa tenang yang berlangsung tiga hari dan telah dimulai pada Minggu (11/2/2024).
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, misalnya, melarang tim kampanye menjanjikan atau memberikan imbalan kepada pemilih untuk memilih calon tertentu selama masa tenang. Media massa dilarang menyiarkan berita, iklan, atau rekam jejak peserta pemilu yang mengarah pada keuntungan/kerugian peserta pemilu. Netralitas aparat juga amat ditekankan pada periode ini.
Tantangan saat ini adalah memastikan semua aturan itu berjalan seperti seharusnya. Hal ini disebabkan bagi sebagian kandidat dan pihak lain yang berkepentingan, masa tenang merupakan saat terakhir dan menentukan untuk meraih suara pemilih. Terlebih, ada sebagian pemilih yang baru menentukan pilihannya di saat-saat akhir menjelang pemungutan suara.
Kondisi itu membuat selama masa tenang ini ada dugaan bahwa politik uang akan marak dilakukan, berita bohong dan kampanye hitam banyak dijumpai, hingga kemungkinan adanya intimidasi atau mobilisasi pemilih.
Kedewasaan berpolitik dari para elite amat dibutuhkan agar berbagai kekhawatiran itu tak mewujud selama masa tenang hingga semua tahapan Pemilu 2024 berakhir. Pasalnya, apa yang terjadi pada masyarakat selama tahapan pemilu sebagian besar merupakan dampak dari sikap dan langkah elite politik.
Di saat yang sama, ketegasan dari aparat dan penyelenggara pemilu untuk menindak dengan tegas semua pelanggaran pada masa tenang ini juga amat dibutuhkan.
Bagi penyelenggara pemilu, masa tenang ini juga menjadi saat terakhir untuk memastikan bahwa pemungutan suara akan berjalan dengan lancar dan aman. Terkait hal itu, penting memastikan logistik pemilu sudah terdistribusi sesuai target.
Pengecekan kesehatan petugas pemungutan suara di lapangan juga mesti dipastikan berjalan efektif. Meninggalnya 894 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara pada Pemilu 2019 jangan sampai terulang kembali.
Sejumlah problem yang muncul dalam pemungutan suara di luar negeri, seperti membeludaknya pemilih dan pengiriman surat suara yang salah alamat, tidak hanya mendesak untuk dituntaskan. Namun, hal itu juga menjadi peringatan awal agar hal serupa tak terjadi di pemungutan suara pada 14 Februari mendatang.
Akhirnya, apa yang terjadi pada masa tenang ini menjadi salah satu penentu kesuksesan Pemilu 2024. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada calon pemilih untuk menimbang tanpa tekanan apa pun akan membantu mereka menggunakan haknya dengan penuh kesadaran di Pemilu 2024.
Jika ditambah dengan teknis penyelenggaraan pemilu yang berjalan lancar, apa pun hasil Pemilu 2024 akan lebih mudah diterima oleh semua pihak dengan jiwa besar. Semoga.
Editor: Marcellus Hernowo