Home   Blog  
Pengembangan Diri

  Thursday, 12 February 2026 14:00 WIB

Pengertian Seni Kriya: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Author   Raden Putri
Pengertian Seni Kriya: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Setiap benda dalam kehidupan sehari-hari yang indah dan fungsional, tak lepas dari proses kreatif di baliknya. Seni kriya adalah wujud karya yang memadukan keahlian tangan dengan nilai estetika serta kegunaan praktis.

Banner Dobel Promo Valentine

Melalui karya kriya, keindahan tidak hanya bisa dinikmati, tapi juga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Artikel berikut ini akan mengulas lebih lanjut pengertian seni kriya dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Simak, yuk!

Apa Itu Seni Kriya (Craft)?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kriya merujuk pada pekerjaan atau kerajinan tangan. Dalam bahasa Inggris, kata ini dikenal sebagai craft, yakni aktivitas yang menekankan keterampilan manual dalam menghasilkan suatu benda secara handmade atau buatan tangan.

Secara umum, yang dimaksud dengan seni kriya adalah cabang seni rupa yang berfokus pada penciptaan karya dekoratif maupun fungsional. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, di mana “seni” bermakna keindahan dan “kriya” berarti membuat. 

Dalam konteks artistik, seni kriya menekankan proses produksi yang melibatkan keterampilan khusus serta ketepatan teknik. Perbedaan utamanya dengan seni rupa murni terletak pada orientasi fungsinya.

Paket Belajar dengan Kurikulum yang Dirancang Khusus cuma Setengah Harga

Seni rupa murni lebih menitikberatkan pada ekspresi estetika dan nilai keindahan, sementara kriya menggabungkan unsur estetik tersebut dengan kegunaan praktis. Oleh karena itu, hasil karya craft tidak hanya bisa dinikmati secara visual tapi juga digunakan secara langsung.

Fungsi Seni Kriya

Hasil karya seni kriya memiliki peran peran penting dalam kehidupan sehari-hari karena tidak hanya menghadirkan keindahan, tapi juga nilai guna. Adapun fungsi dari salah satu jenis karya seni rupa terapan yang sering disebut sebagai kerajinan tangan ini adalah sebagai berikut:

1. Hiasan

Produk kerajinan tangan sering dimanfaatkan sebagai elemen dekoratif atau pajangan. Pada fungsi ini, aspek estetika lebih diutamakan dibandingkan kegunaan praktis sehingga mendekati karakter seni rupa murni.

Contoh: patung ukir, hiasan dinding, cinderamata, dan karya pahatan dekoratif.

2. Benda Terapan

Dalam ranah seni terapan, karya kriya menonjolkan fungsi praktis tanpa menghilangkan nilai keindahan. Produk yang dihasilkan pun dirancang agar nyaman digunakan sekaligus memiliki daya tarik visual.

Contoh: perabot rumah tangga, pakaian, furnitur, keramik, dan perhiasan.

3. Benda Mainan

Selain sebagai hiasan dan barang pakai guna, sebagian karya seni kriya juga difungsikan sebagai alat permainan. Produk ini biasanya dibuat dari bahan sederhana, mudah diperoleh, serta dirancang agar aman dan terjangkau.

Contoh: mainan kayu tradisional dan boneka buatan tangan.

Seni kriya adalah

Jenis Seni Kriya Berdasarkan Bahan

Berdasarkan media pembuatannya, seni kriya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis. Antara lain:

1. Seni Kriya Kayu

Jenis kerajinan tangan ini memanfaatkan kayu sebagai bahan utama dengan teknik pembuatan ukir atau pahat. Karya yang dihasilkan pun biasanya menggabungkan nilai fungsi dan unsur dekoratif. Contohnya patung, topeng, wayang golek, furnitur, dan hiasan ukir.

2. Tekstil

Bahan dasar kerajinan tangan ini menggunakan kain dari berbagai jenis serat. Proses pembuatannya melibatkan banyak teknik, termasuk tenun, ikat, cetak, atau metode lain sesuai karakter bahan. Beberapa contohnya adalah batik, tenun, songket, serta kain mentah hasil olahan serat.

3. Keramik

Seni keramik berasal dari tanah liat yang dibentuk lalu dibakar pada suhu tinggi dan diberi lapisan glasir. Teknik pembuatannya meliputi slab, putar, pilin, dan cetak, dengan contoh karya seperti guci, piring, vas bunga, gelas, dan wadah hias.

4. Logam

Logam menjadi bahan utama dalam seni kerajinan tangan ini dan dibuat melalui teknik cor atau cetak. Salah satu metode populer yang digunakan ialah teknik cetak dua sisi atau bivalve. Contohnya perhiasan, miniatur, patung, serta peralatan makan berbahan logam.

5. Kulit

Kriya kulit memanfaatkan kulit hewan seperti sapi, kerbau, atau ular sebagai media utama. Bahan tersebut umumnya diolah melalui proses penyamakan dan pembentukan tertentu. Beberapa contohnya adalah tas, dompet, sepatu, ikat pinggang, dan alat musik rebana.

Teknik Pembuatan Seni Kriya

Karya seni kriya dihasilkan melalui berbagai teknik sesuai dengan bahan dan tujuan pembuatannya. Berikut beberapa teknik pembuatan kerajinan tangan tersebut.

1. Teknik Pahat / Ukir

Teknik pahat atau ukir dilakukan dengan cara mengurangi permukaan bahan menggunakan alat khusus seperti tatah. Proses ini melibatkan aktivitas menggores, memahat, dan menoreh pola hingga membentuk wujud tertentu. 

Media yang digunakan oleh teknik ini cukup beragam, mulai dari batu, kayu, logam, tulang, hingga kulit hewan. Contoh penerapannya dapat dilihat pada patung arca dari batu andesit khas Bali.

2. Teknik Butsir

Metode ini membentuk karya dengan cara menambah dan mengurangi bahan yang bersifat lunak. Media yang umum digunakan pada proses ini ialah tanah liat karena mudah dibentuk sesuai kebutuhan. 

Teknik Butsir sendiri memungkinkan perajin menciptakan bentuk tiga dimensi secara fleksibel sebelum melalui proses pembakaran. Contohnya adalah guci atau vas bunga dari tanah liat.

3. Teknik Tenun

Teknik tenun dilakukan dengan menyilangkan benang secara teratur hingga membentuk sebuah lembaran kain. Di Indonesia, metode ini terbagi menjadi tenun ikat dan tenun songket dengan perbedaan pada bahan serta cara pengerjaannya.

Proses pembuatan produk dengan teknik ini juga memerlukan ketelitian tinggi dan waktu panjang, bahkan bisa mencapai beberapa bulan. Contoh hasil karyanya adalah kain tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur.

4. Teknik Anyaman

Kerajinan tangan juga bisa dibuat dengan metode anyaman, yakni dengan cara tindih-menindih dan silang-menyilang bahan mengikuti pola tertentu. Media yang digunakan berasal dari alam maupun buatan, seperti bambu, rotan, pandan, hingga plastik. 

Teknik ini berkembang luas di berbagai daerah di Indonesia dan menghasilkan benda pakai maupun dekoratif. Contoh produknya antara lain keranjang rotan atau tikar pandan.

5. Teknik Batik

Metode batik diterapkan melalui proses penutupan pola menggunakan malam sebelum kain diberi warna. Metode pembuatannya meliputi batik tulis, cap, dan lukis dengan karakter visual berbeda. 

Setiap daerah di Indonesia memiliki corak batik khas yang mencerminkan identitas budaya setempat. Contohnya adalah batik tulis motif parang dari Jawa dan batik mega mendung dari Cirebon.

6. Teknik Cor / Casting

Sementara itu, teknik cor dilakukan dengan menuangkan bahan cair ke dalam cetakan hingga membentuk objek tiga dimensi. Metode ini banyak digunakan pada media logam atau bahan lain yang dapat dilelehkan. 

Hasil akhir karya dengan teknik ini cenderung memiliki bentuk presisi sesuai desain cetakan. Salah satu contohnya adalah patung logam hasil teknik casting.

Perkembangan Seni Kriya di Nusantara

Sejarah seni kriya di Indonesia mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan budaya. Setiap periodenya pun hadir dengan mencerminkan kondisi masyarakat pada zamannya. Berikut ringkasan perkembangannya:

1. Zaman Klasik

Pada masa klasik, kriya menjadi media seni utama dan sangat dihormati. Karya yang dihasilkan sarat dengan nilai filosofis, spiritual, serta simbol kepercayaan masyarakat. 

Hasil karya seni kriya pada zaman ini umumnya digunakan dalam ritual, upacara, maupun sebagai lambang status sosial. Contohnya meliputi keris, perhiasan emas dan perak, ukiran kayu, topeng, serta wayang.

2. Zaman Madya atau Islam

Memasuki masa Islam, fungsi karya kriya mulai mengalami pergeseran. Unsur religius dan magis berangsur berkurang, digantikan nilai guna yang lebih praktis. 

Meski demikian, tradisi lokal dan nilai spiritual Nusantara tetap dipertahankan. Bentuk benda yang dihasilkan pun masih serupa dengan periode sebelumnya.

3. Zaman Modern atau Kolonial

Pada masa kolonial, karya seni ini semakin difokuskan pada kebutuhan sehari-hari. Nilai artistik pun cenderung dipandang lebih rendah dibandingkan fungsi pakainya. 

Selain itu, pengaruh budaya asing juga mulai masuk dan memperkenalkan gaya serta teknik baru. Pada periode ini, kriya bersaing dengan cabang seni lain seperti seni lukis.

4. Zaman Kontemporer

Saat ini, karya kriya kembali memperoleh apresiasi yang lebih luas. Banyak perajin dan seniman mengangkat produk handmade sebagai karya bernilai tinggi di tingkat lokal maupun global. 

Benda-benda tersebut mampu bersaing dengan produk massal karena keunikan dan keterampilan pembuatannya. Nilai tradisi serta keahlian tangan juga menjadi daya tarik utama di era modern.


Bagikan