Pernahkah kamu merasa baik-baik saja padahal situasinya sebaliknya? Denial adalah respons psikologis yang sering muncul saat seseorang belum siap menerima kenyataan pahit dalam hidupnya, sehingga berusaha meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja atas semua hal yang terjadi.
Tanpa disadari, sikap ini memang kerap terasa menenangkan di awal, tapi ternyata berisiko menghambat proses pemulihan jika dibiarkan terlalu lama. Namun sebenarnya, denial itu apa? Artikel berikut ini akan mengulas lebih dalam mengenai fase denial, ciri-ciri, dan cara mengatasinya.
Dalam psikologi, arti denial adalah kondisi saat seseorang menolak mengakui fakta atau realitas yang tidak sesuai dengan harapannya. Sikap ini biasanya muncul sebagai bentuk perlindungan diri dari emosi berat seperti cemas, takut, atau sedih.
Reaksi penolakan ini tergolong wajar, terutama saat individu menghadapi peristiwa mengejutkan atau menyakitkan. Hal ini sering disebut sebagai fase denial, yakni tahap awal reaksi emosional saat seseorang belum bisa menerima kenyataan, sehingga cenderung menyangkal fakta, meremehkan masalah, atau berpura-pura baik-baik saja.
Respons semacam ini bisa muncul, seperti saat kehilangan orang terdekat, pemutusan hubungan kerja, hingga menerima diagnosis penyakit serius. Secara tidak sadar, seseorang bisa menghindari fakta, emosi, atau situasi tertentu demi meredam tekanan batinnya.
Contohnya, individu yang baru menerima kabar bahwa kondisi kesehatannya menurun mungkin menolak percaya pada hasil pemeriksaan karena belum siap menghadapi kenyataan. Sedangkan, denial percintaan adalah kondisi saat seseorang menolak menerima kenyataan pahit dalam hubungan, seperti penolakan atau perpisahan.
Meski kerap dipandang negatif, sikap ini tidak selalu merugikan. Dalam jangka pendek, penolakan bisa memberi waktu untuk menyesuaikan diri secara emosional, selama tidak dibiarkan terlalu lama yang justru bisa menghambat proses penyembuhan dan penyelesaian masalah.
Seseorang yang sedang berada dalam fase penolakan umumnya menunjukkan beberapa tanda. Berikut ciri-ciri orang yang tidak bisa menerima kenyataan:

Berdamai dengan kenyataan bukan berarti menyerah, namun belajar menerima kenyataan dengan cara lebih sehat. Berikut adalah beberapa cara mengatasi denial:
Langkah paling penting untuk mengatasi perasaan denial adalah dengan menyadari dan menerima emosi yang muncul tanpa mencoba menekannya. Perasaan sedih, marah, atau takut merupakan reaksi manusiawi terhadap situasi sulit.
Dengan mengenali emosi tersebut, kamu memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan. Proses penerimaan ini akan membantu mengurangi tekanan batin secara perlahan.
Penerimaan atas apa yang terjadi di hidupmu tidak harus dilakukan dalam satu waktu. Kamu bisa memberi jeda bagi diri sendiri untuk mencerna kenyataan tersebut agar proses adaptasi terasa lebih ringan.
Pendekatan bertahap dan perlahan memungkinkan pikiran dan emosi untuk menyesuaikan diri secara alami. Dengan cara ini, kamu tidak akan merasa terburu-buru atau tertekan.
Berbagi cerita dengan orang kepercayaan dapat membantu mengurangi beban emosional. Dukungan sosial sering kali dapat menenangkan dan memberi sudut pandang baru yang lebih objektif.
Setelah itu, arahkan perhatian pada langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi. Fokus pada solusi membantu mengubah rasa tidak berdaya menjadi tindakan yang lebih konstruktif.
Penolakan terhadap kenyataan bisa menjadi masalah saat menghambat pengambilan keputusan penting. Jika sikap ini berlangsung lama dan mulai memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, sangat dianjurkan untuk segera meminta bantuan profesional.
Psikolog atau psikiater dapat membantu menggali akar permasalahan serta menyusun strategi koping yang lebih sehat. Dengan pendampingan yang tepat, proses menghadapi realitas bisa berjalan lebih terarah dan aman secara emosional.
Pada dasarnya, mekanisme pertahanan ini merupakan respons alami manusia. Namun jika sudah mengganggu kualitas hidup, langkah terbaik adalah mencari dukungan agar proses pemulihan berjalan lebih optimal.